TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di balik layar, proposal penyelamatan TikTok dari potensi penutupan di Amerika Serikat mulai terungkap. Sumber CNN menyebutkan, sejumlah perusahaan modal ventura, dana ekuitas swasta, hingga raksasa teknologi berbasis AS tengah merancang strategi.
Mereka berencana membentuk perusahaan baru di Negeri Paman Sam yang khusus mengoperasikan TikTok di wilayah tersebut.
Langkah ini dipandang sebagai kompromi untuk meredakan ketegangan geopolitik sekaligus menjaga bisnis TikTok tetap hidup di salah satu pasar terbesarnya. Namun, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal, kerangka kerja tersebut masih cair.
Nasib TikTok bisa berubah kapan saja, tergantung pada hasil pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung Jumat pekan ini.
“Detail apa pun dari kerangka kerja TikTok hanyalah spekulasi belaka kecuali diumumkan oleh pemerintahan ini,” ujar seorang pejabat senior Gedung Putih, menegaskan bahwa pembahasan masih sangat sensitif.
Di antara nama-nama besar yang terlibat, terselip Larry Ellison, pimpinan eksekutif Oracle sekaligus salah satu sekutu politik Trump. Bahkan pada Januari lalu, Trump secara terbuka menyatakan dukungannya apabila Ellison benar-benar membeli aset TikTok di AS.
Pemerintah AS sejauh ini masih memberi kelonggaran. Trump memperpanjang tenggat waktu keberlangsungan TikTok di negaranya, memberikan ruang untuk kesepakatan yang sedang digodok hingga 17 September 2025.
Di satu sisi, upaya ini mencerminkan kerasnya tarik ulur antara dua negara adidaya. Di sisi lain, kisah ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah aplikasi hiburan bisa menjelma menjadi isu geopolitik, melibatkan miliaran dolar investasi dan memengaruhi relasi diplomatik dua negara.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com, CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































