SPMB Ganti Nama, Masalah Tetap Sama: Zonasi, Usia, dan KK Gaib Masih Lolos Seleksi

TIMETODAY.ID, BOGOR – Ganti nama, ganti harapan, tapi harapan tinggal harapan. Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2025 kembali tayang dengan episode yang sama: drama tahunan penuh air mata, zonasi, dan kartu keluarga gaib.

Meski sistem ini telah menjalani re-branding dari PPDB menjadi SPMB, banyak guru dan orang tua mengaku hanya merasakan perubahan di level akronim. Sisanya? Masih penuh ketegangan seperti sinetron menjelang buka puasa.

“SPMB sekarang sama kayak tahun lalu, sama aja. Ganti nama doang. Paling bedanya kuota tingkat SMP dan SMA, tapi SD mah gitu-gitu juga. Tiap kali SPMB pasti selalu ada drama,” ujar Femi Imaniar (32), seorang wali murid.

Advertisement

Femi menyebut drama favoritnya tahun ini adalah “rumah dekat sekolah tapi tetap gagal lolos,” karena sistem penilaian lebih memihak usia ketimbang jarak.

Baca Juga :  DPRD Kabupaten Bogor Siap Perluas Rute Bus Listrik jika Uji Coba Sukses

“Rumah deket sekolah belum tentu diterima. Yang penting umur, bukan lokasi. Ini SPMB atau sayembara siapa yang lebih tua?” sindirnya.

Ia juga menyoroti kemunculan mendadak KK gaib, yang entah bagaimana bisa muncul di RT yang bahkan ketua RT-nya pun bingung.

“Datanya bener ada, eh rumahnya enggak ada. Ini zonasi apa horor? Zona hitam maksudnya bukan karena listrik mati, tapi karena mau masuk SMP/SMA Negeri selalu terlempar. Jadi sekolahnya belum nyampe, dramanya udah sampai,” katanya.

Meski demikian, Femi mengakui satu dampak positif dari sistem ini: sekolah swasta mulai hidup kembali seperti tanaman disiram hujan.

“Kebijakan ini ada plus minusnya sih. Sekolah swasta yang dulu isinya cuma penjaga sekolah, sekarang mulai rame. Lumayan, jadi gak tutup,” tambahnya, dengan nada setengah lega.

Baca Juga :  Liverpool Tantang Arsenal, Arne Slot Nilai The Gunners Hampir Tanpa Celah

Sementara itu, pengamat pendidikan Heru B. Setyawan tampil bak komentator netral dalam debat calon presiden.

“Tidak ada sistem yang sempurna. Dari PPDB ke SPMB ya pasti ada plus minusnya. Yang penting sistem lama yang kurang baik kita pertahankan dan yang kurang baik kita perbaiki,” ucapnya.

Heru juga mengingatkan bahwa praktik sulap administrasi masih jadi primadona, terutama pada kasus mutasi di kelas 8 atau 11.

“Ini yang sering terjadi para tahun-tahun sebelumnya yang lalu,” katanya.

Ia bahkan mendukung langkah politisi Dedi Mulyadi yang ingin membuka tabir para pelaku curang secara publik.

“Setuju banget, brou,” tutupnya.

Editor: B. Supriyadi

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel