Mahasiswa Protes “Perbup Gaib”, Tagih Fasilitas Umum yang Tak Kunjung Nyata

TIMETODAY.ID.ID, BOGOR — Puluhan Himpunan Mahasiswa Rumpin (HMR) dan warga jalur Tambang terpaksa menempuh perjalanan kaki sejauh 20 kilometer ke Pendopo Bupati Bogor, Kamis (19/6/2025) malam. Bukan karena hobi jalan jauh, tapi karena keadilan tampaknya tak punya ongkos untuk datang sendiri.

Mereka longmarch menyusuri jalanan rusak penuh debu dan truk tambang, sebagai protes atas “Perbup gaib” lampu jalan yang cuma hidup di proposal, dan fasilitas kesehatan yang mungkin hanya ada di brosur kampanye.

“Tujuan kami ke sini cuma satu, menagih janji. Tapi entah janji siapa, karena semua pejabat mendadak amnesia begitu selesai foto bersama saat pemilu,” ujar Azis, warga Rumpin yang suaranya kini lebih keras dari klakson truk tambang.

Advertisement
Baca Juga :  Sopir Truk Tambang yang Menewaskan Ibu-Anak di Parung Panjang Meyerahkan Diri

Azis menyebutkan, dalam dua bulan terakhir saja, lima nyawa melayang. Kalau ini dibiarkan, jalur tambang mungkin bisa segera menggeser jalur kereta api sebagai penyumbang angka kecelakaan terbanyak.

“Baru dua bulan, sudah lima korban. Di Rumpin empat, Parungpanjang satu. Yang terbaru tiga orang sekaligus. Tapi karena bukan anggota dewan atau kerabat pejabat, sepi pemberitaan dan minim empati,” kata Azis.

Lebih pedih lagi, adik kandung Azis ikut jadi korban. “Patah tulang, rahang remuk. Tapi ya begitulah nasib rakyat, kalau selamat, dianggap kuat. Kalau mati, dianggap tak beruntung,” sindirnya.

Baca Juga :  Desa Blatten di Swiss Tertimbun Longsoran Gletser, 90 Persen Wilayah Hancur

Aksi mahasiswa ini juga diisi dengan penyalaan lilin. Bukan untuk menerangi jalur tambang yang gelap, tapi sebagai simbol duka atas pemerintah yang lebih senang menyinari baliho ketimbang jalan rakyat.

“Kalau Bupati atau Wabup tak mau keluar menemui kami, ya kami tunggu saja. Karena kalau menunggu perbaikan jalur tambang, mungkin harus sampai akhir masa jabatan atau akhir zaman, mana yang lebih dulu,” seloroh Azis.

Ia pun menutup orasinya dengan kutipan yang seharusnya jadi tagline resmi kampanye

“Masalah ini selalu dijual lima tahun sekali. Setelah itu, rakyat disuruh bayar pakai nyawa,” tuntasnya.

Editor: B. Supriyadi

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel