Menyingkap Tabir Kekerasan Anak dan Perempuan di Kabupaten Bogor

Kekerasan anak dan perempuan
Kepala DP3AP2KB Kabupaten Bogor, Sussy Rahayu Agustini. Foto : timetoday.id/Amelia Azizah.

TIMETODAY.ID, BOGOR Kekerasan anak dan perempuan masih menjadi persoalan yang mengkhawatirkan di Kabupaten Bogor. Meski berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah, data yang dihimpun Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) menunjukkan bahwa kasus-kasus kekerasan masih tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Bogor, Sussy Rahayu Agustini, mengungkapkan bahwa lonjakan tertinggi terjadi pada tahun 2023 dengan jumlah 365 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tahun sebelumnya, 2022, tercatat ada 298 kasus. Meski sempat menurun pada 2024 menjadi 355 kasus, angkanya tetap berada dalam kategori tinggi.

“Paling banyak itu di tahun 2023, itu jumlah perempuan dan anak 365 kasus. Sebelumnya (2022) 298 kalau tidak salah, tetapi turun kembali di 2024 itu 355 kasus,” ujar Sussy, Rabu (28/5/2025).

Memasuki semester pertama tahun 2025, angka kasus kekerasan masih mengkhawatirkan. Menurut Sussy, jumlahnya sudah melampaui 100 kasus meski belum menyentuh angka 150.

“Di atas 100, belum sampai ke 150,” ungkapnya.

Dari keseluruhan data yang dimiliki DP3AP2KB, anak-anak menjadi korban paling dominan. Jenis kekerasan yang paling sering terjadi adalah perundungan atau bullying.

“Ya ada aja, dominan kita masih anak karena ada bully masih dominan,” terang Sussy.

Melihat tingginya angka kekerasan, terutama di lingkungan sekolah, DP3AP2KB berupaya melakukan pencegahan dengan menyasar institusi pendidikan. Program pembinaan yang dilakukan menyasar langsung ke sekolah-sekolah dengan menggandeng Forum Anak Daerah.

“Kami melakukan pembinaan dengan cara go to school. Forum Anak Daerah melakukan pembinaan ke beberapa sekolah,” jelas Sussy.

Tak hanya itu, pembinaan juga diberikan kepada para guru melalui bimbingan teknis agar sekolah menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak.

“Kita mengadakan bimtek untuk guru-guru supaya menjadi sekolah ramah anak,” tambahnya.

Upaya preventif tidak hanya terbatas pada sekolah. Para relawan dan komunitas lokal juga dilibatkan dalam pembinaan untuk memperkuat jejaring sosial yang mendukung perlindungan anak dan perempuan. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Editor : B. Supriyadi

Baca Juga :  Ormas se-Kabupaten Bogor Deklarasikan Damai Jaga Kabupaten Bogor

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel