TIMETODAY.ID — Senin sore yang muram di bulan Mei berubah menjadi momen penuh haru bagi warga Tenafly, New Jersey. Suara sirine mengiringi konvoi yang membawa pulang Edan Alexander, pemuda 21 tahun yang akhirnya bisa menghirup udara bebas setelah tujuh bulan ditawan di Gaza. Tangis bahagia pecah, pelukan hangat menyambut. Namun di balik kegembiraan itu, dunia menatap penuh tanya: apakah ini pertanda awal perdamaian?
Edan Alexander adalah satu dari ratusan sandera yang ditahan dalam konflik panjang antara Israel dan Hamas. Ia merupakan warga negara ganda, Amerika Serikat dan Israel. Ditahan sejak Oktober 2023, kisahnya menjadi simbol dari betapa rumitnya simpul perang yang tak kunjung terurai.
“Brigade Al-Qassam baru saja membebaskan tentara Zionis sekaligus warga AS, Edan Alexander, setelah melakukan kontak dengan pemerintah AS sebagai bagian dari upaya yang dilakukan mediator untuk mencapai gencatan senjata,” demikian pernyataan kelompok Hamas, dikutip AFP.
Langkah pembebasan Alexander tidak terjadi begitu saja. Sehari sebelumnya, Hamas telah menyatakan keterbukaan untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat terkait gencatan senjata di Gaza—sebuah sikap yang jarang mereka tunjukkan secara terbuka.
“Kami menegaskan bahwa negosiasi yang serius dan bertanggung jawab akan membuahkan hasil berupa pembebasan sandera, sementara kelanjutan agresi akan memperpanjang penderitaan dan dapat membunuh mereka,” lanjut pernyataan Hamas.
Alexander adalah sandera warga negara AS terakhir yang diketahui masih hidup di Gaza. Maka, kepulangannya bukan hanya jadi penghibur bagi keluarganya di New Jersey, tapi juga menjadi poin penting dalam diplomasi konflik Gaza yang terus bergolak.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memuji pembebasan Alexander, namun tetap menegaskan bahwa hal itu tidak akan menjadi alasan untuk menghentikan operasi militer secara permanen.
Ia bahkan menyampaikan terima kasih kepada mantan Presiden Donald Trump yang disebut-sebut turut berperan dalam upaya pembebasan tersebut. Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa tidak akan ada gencatan senjata dalam bentuk apa pun setelah pembebasan Alexander.
Israel hanya menghentikan serangan secara sementara untuk memungkinkan proses pemulangan sandera. Jeda singkat itu, menurut militer Israel, sekaligus memberi waktu istirahat yang sangat dibutuhkan bagi warga sipil di Gaza.
Namun apakah jeda itu cukup untuk menghentikan derita?
Sejak pelanggaran gencatan senjata pada 18 Maret, serangan demi serangan kembali mengguncang Gaza. Kementerian Kesehatan setempat mencatat, sebanyak 2.749 orang tewas sejak saat itu. Sejak awal konflik pada Oktober 2023, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai 52.862 jiwa.
Dari total 251 sandera yang dilaporkan, masih ada 57 orang yang diketahui berada di Gaza. Tragisnya, 34 dari mereka diperkirakan sudah meninggal dunia menurut data militer Israel.
Di tengah kabar kepulangan dan sambutan hangat, dunia masih harus menyaksikan satu babak panjang dari perang yang terus memperpanjang luka.
Kepulangan Edan Alexander seolah menjadi percikan kecil dari api harapan bahwa pembicaraan dan diplomasi masih mungkin terjadi. Namun hingga semua sandera pulang dan bom benar-benar berhenti jatuh, pertanyaan utamanya tetap menggantung: kapan perdamaian benar-benar datang?
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































