Waisak dan Warisan Leluhur: Kisah Arsitektur Agung Borobudur

Buddha
Borobudur Yogyakarta, Java, Indonesia. (istock)
TIMETODAY.ID — Ketika cahaya bulan purnama menyinari langit Magelang, ribuan umat Buddha dari penjuru negeri dan dunia berkumpul dalam keheningan yang sakral. Mereka membawa lilin, bunga teratai, dan doa yang mengalir dalam hati. Inilah Waisak hari suci umat Buddha yang tahun ini jatuh pada Minggu, 12 Mei 2024 sebuah momen yang merayakan Trisuci Waisak: kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Buddha Gautama.
Namun, lebih dari sekadar upacara keagamaan, Waisak di Indonesia memancarkan makna spiritual yang mendalam. Bukan hanya karena nilai-nilai ajarannya, tetapi juga karena tempat perayaannya: Candi Borobudur.
Sudah sejak 1929, umat Buddha di Indonesia menjadikan Candi Mendut dan Borobudur sebagai pusat perayaan Waisak. Tradisi ini terus hidup hingga kini, bahkan diperkuat dalam nota kesepakatan bersama empat kementerian dan dua pemerintah provinsi pada 2022 yang menegaskan Borobudur sebagai pusat ibadah umat Buddha dunia.
Borobudur memang bukan sekadar monumen sejarah. Ia adalah bukti hidup kejayaan peradaban Nusantara. Dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar tahun 750-850 Masehi, candi ini berdiri kokoh tanpa semen, tanpa perekat, hanya batu demi batu yang disusun dengan teknik yang bahkan oleh arsitek modern disebut “interlock” pola kunci mirip puzzle yang membuat batu-batu saling menguatkan.
“Untuk memikul satu balok batu saja diperlukan empat orang,” tulis arkeolog Universitas Indonesia, Noehardi Magetsari, dalam 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur (2014). Bayangkan bagaimana batu-batu andesit itu dipahat, dibawa dari daerah jauh, lalu dinaikkan hingga ke puncak candi setinggi 30 meter. Semua dilakukan tanpa alat berat.
Sebelum batu disusun, nenek moyang kita terlebih dahulu membentuk bukit menjadi berundak pondasi alami dari candi itu sendiri. Lalu mulailah batu disusun, satu per satu, dengan presisi yang mencengangkan. Tiap relief bercerita tentang nilai hidup, hukum karma, dan perjalanan menuju pencerahan.
Tak heran, meskipun dibangun dengan teknologi sederhana, Borobudur disebut sebagai salah satu keajaiban dunia. Ia bukan hanya bangunan, tapi juga simbol kejernihan pikiran dan kebesaran spiritual.
Kini, tiap tahun saat Waisak tiba, suasana di Borobudur kembali hidup. Cahaya lilin dan ribuan langkah kaki para bhikkhu menyusuri jalanan batu yang dulu ditapaki para leluhur. Doa-doa dilantunkan dalam hening, menyatu dengan gemuruh alam dan sinar bulan purnama.
Borobudur, dalam keheningan malam Waisak, bukan lagi sekadar peninggalan arkeologis. Ia adalah cermin—yang memantulkan kembali ketekunan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati manusia di hadapan waktu dan alam semesta.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Indonesia Percepat Elektrifikasi Transportasi, Prabowo Resmikan Pabrik di Magelang

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel