TIMETODAY.ID — Kebijakan tarif impor yang diperkenalkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus memberikan dampak signifikan terhadap sektor-sektor industri di AS. Salah satu yang terbaru merasakan dampaknya adalah Ford, produsen otomotif ternama yang berbasis di Dearborn, Michigan.
Pada Senin (5/5/2025), Ford mengumumkan bahwa perusahaan terpaksa menangguhkan panduan keuangan tahunan mereka. Keputusan ini diambil menyusul ketidakpastian yang ditimbulkan oleh kebijakan tarif impor yang dicanangkan oleh Pemerintah AS, khususnya tarif yang dikenakan pada kendaraan yang diimpor dari negara-negara seperti Meksiko dan China.
Dampak Finansial yang Signifikan
Ford memperkirakan bahwa tarif tersebut akan membebani perusahaan dengan biaya tambahan sekitar US$ 1,5 miliar (Rp 24 triliun) dalam laba yang disesuaikan sebelum bunga dan pajak (EBIT). Eksekutif perusahaan menyatakan bahwa biaya tambahan tersebut sebagian besar disebabkan oleh pungutan terhadap kendaraan yang diimpor dari negara-negara tersebut.
Lebih lanjut, Ford memperkirakan biaya keseluruhan yang terkait dengan tarif impor untuk tahun 2025 akan mencapai US$ 2,5 miliar (Rp 41 triliun), dengan fokus utama pada biaya impor kendaraan dari Meksiko dan China.
Seiring dengan pengumuman tersebut, saham Ford mengalami penurunan sebesar 2,3% dalam perdagangan setelah jam kerja pada hari yang sama. Ini menjadi salah satu indikasi bahwa pasar mulai merespons negatif kebijakan tarif yang mengganggu prediksi keuangan perusahaan.
Langkah Penyesuaian Ford
Sebagai respons terhadap dampak tarif, Ford mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan sejumlah penyesuaian strategis. Salah satu langkah utama yang diambil adalah menghentikan ekspor otomotif ke China, meskipun perusahaan masih mengimpor beberapa model kendaraan seperti Lincoln Nautilus dari negara tersebut.
Namun, Ford berhasil mengurangi sekitar US$ 1 miliar (Rp 16 triliun) dari biaya keseluruhan melalui berbagai langkah efisiensi, termasuk mengatur ulang rute pengiriman kendaraan dari Meksiko ke Kanada, di mana kendaraan tersebut tidak dikenakan tarif yang sama seperti saat masuk ke AS.
Penangguhan Proyeksi Keuangan dan Ketidakpastian yang Masih Ada
Sebelumnya, Ford telah memproyeksikan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) untuk tahun 2025 akan berada dalam kisaran US$ 7 miliar (Rp 115 triliun) hingga US$ 8,5 miliar (Rp 139 triliun). Namun, prediksi tersebut tidak memperhitungkan dampak dari tarif impor yang baru.
Kepala Keuangan Ford, Sherry House, menyatakan bahwa perusahaan masih berada di jalur yang tepat untuk mencapai proyeksi laba tersebut, namun tanpa memperhitungkan tarif. Meskipun demikian, dengan adanya ketidakpastian yang tinggi, terutama terkait dengan bagaimana konsumen akan bereaksi terhadap kenaikan harga, perusahaan merasa lebih aman untuk menangguhkan panduan tahunan mereka.
Reaksi Industri dan Pesaing Ford
Menariknya, pesaing Ford seperti General Motors (GM) telah memberikan panduan keuangan terbaru mereka, yang mencakup dampak tarif impor. Sementara itu, eksekutif Ford memilih untuk menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai kebijakan tarif ini sebelum memberikan proyeksi keuangan yang lebih pasti.
Analis industri dari Morningstar Research, David Whiston, menyatakan bahwa meskipun Ford mengambil langkah yang cukup berani dengan menangguhkan panduan mereka, banyak hal yang masih sangat tidak pasti. Hal ini membuatnya wajar jika Ford ingin lebih berhati-hati dalam memberikan proyeksi di tengah ketidakpastian tersebut.
Penutup:
Dampak dari kebijakan tarif Presiden Trump terus berlanjut, dan Ford menjadi salah satu perusahaan yang merasakannya cukup dalam. Meskipun langkah efisiensi dan penyesuaian telah diambil, ketidakpastian seputar kebijakan perdagangan AS dan reaksi pasar menjadi tantangan besar yang harus dihadapi oleh Ford dan produsen otomotif lainnya di AS.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































