RSUD Ciawi Tahan Jenazah Demi Uang? Samsul Hidayat : Ini Tidak Manusiawi

RSUD Ciawi
Gedung RSUD Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto : Ist.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Insiden penahanan jenazah di RSUD Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menuai sorotan tajam publik dan kritik dari kalangan legislatif.

Peristiwa ini pertama kali pertama mencuat melalui unggahan seorang pegiat media sosial, Ronald A. Sinaga (Broron). Ia mengungkapkan bahwa jenazah pasien berinisial NL tidak dapat dibawa pulang oleh keluarganya karena persoalan biaya administrasi.

“Saya masih kepikiran, Kenapa admin RSUD Ciawi menolak memberikan rincian tagihan ke ke keluarga almarhum? Hanya diperbolehkan lihat total di layer computer. Apakah ini SOP RSUD Ciawi?,” kata Broron di kutip timetoday.id, Kamis (10/4/2025).

Advertisement

Dalam unggahan tersebut, keluarga pasien disebut tidak sanggup membayar tagihan rumah sakit, sehingga jenazah pun tertahan hingga proses pelunasan dilakukan.

Kejadian ini mendapat respons dari anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Samsul Hidayat. Fraksi partai Golkar itu menyebut peristiwa ini sebagai bentuk kegagalan dalam memanusiakan pasien.

“Saya menyesalkan sikap beberapa direksi rumah sakit umum, terutama di Kabupaten Bogor, yang masih mempertahankan praktik menahan pasien atau jenazah karena belum bayar. Ini tidak boleh terjadi lagi,” tegas Samsul saat dikonfirmasi.

Menurut Samsul, tindakan RSUD Ciawi mencerminkan lemahnya kepekaan sosial sebuah institusi pelayanan publik. Ia menilai rumah sakit daerah seharusnya mengedepankan asas sosial, bukan semata-mata keuntungan finansial.

“RSUD itu lembaga kesehatan milik pemerintah, yang mestinya bersifat sosial. Kalau yang diutamakan aspek bisnisnya, lalu apa bedanya dengan rumah sakit swasta?” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan mengapa pihak RSUD tidak melakukan mitigasi sejak awal, mengingat pasien berdomisili di wilayah Kabupaten Bogor dan seharusnya bisa diverifikasi melalui perangkat desa atau kecamatan.

“Harusnya bisa dicek ke desa atau kelurahan. Kalau memang pasien berasal dari keluarga tidak mampu, ada banyak cara untuk membantu. Bukannya langsung menghadang jenazah hanya karena urusan administrasi,” katanya.

Samsul menambahkan, masyarakat memang memiliki kewajiban seperti kepesertaan dalam BPJS. Namun, ia mengingatkan bahwa sakit atau kematian seringkali datang tanpa persiapan, dan kondisi ekonomi warga tidak bisa disamaratakan.

“Kalau memang belum bayar BPJS, itu bukan karena lalai, bisa jadi memang tidak punya uang atau pekerjaan. Ini yang harus dilihat. Jangan sampai rumah sakit kehilangan sisi kemanusiaannya,” tandasnya.

Terkait insiden ini, Samsul mengaku akan menyampaikan langsung kepada Bupati Bogor agar lebih ketat mengawasi kinerja direksi rumah sakit daerah.

“Saya harap Bupati dan Wakil Bupati mengawasi betul hal seperti ini. Jangan sampai kejadian serupa terulang. Ini soal kemanusiaan,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Ciawi, Fusia Meidiwaty, menjelaskan bahwa saat pasien masuk rumah sakit, statusnya masih sebagai pasien umum karena masih dalam proses pengurusan BPJS atau Universal Health Coverage (UHC).

“Pasien tersebut sedang dalam proses pengurusan BPJS/UHC, sehingga pada saat meninggal belum ada jaminan dan akhirnya menjadi pasien tunai,” jelas Fusia saat dihubungi, Kamis (10/4/2025).

Ia mengklaim pihak rumah sakit sebenarnya telah mengedukasi keluarga pasien sejak awal agar segera menyelesaikan proses administrasi BPJS. Namun, hingga pasien meninggal, jaminan belum tersedia.

Lebih lanjut, Fusia menyebut RSUD Ciawi memiliki kebijakan sosial yang memperbolehkan pasien tidak mampu membayar semampunya atau bahkan digratiskan, namun kebijakan tersebut tidak tersampaikan dengan baik oleh petugas di lapangan.

“Sebenarnya, kami punya mekanisme pembebasan biaya. Kalau tidak mampu, bisa dibayar semampunya dulu atau bahkan digratiskan. Sayangnya, informasi ini tidak tersampaikan dengan baik oleh petugas loket ke pihak keluarga,” katanya.

Ia pun mengakui bahwa manajemen terlambat mengambil keputusan karena informasi dari petugas tidak segera diteruskan ke pihak direksi.

“Permasalahan ini tidak sampai langsung ke manajemen, jadi keputusan untuk membebaskan biaya terkesan terlambat,” ujarnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak RSUD Ciawi menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh dan pembenahan sistem layanan agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Insya Allah, RSUD Ciawi akan terus berbenah diri untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” tutup Fusia.

Editor : B. Supriyadi

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Semarak Merah Putih Mulai Percantik Stadion Pakansari

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel