
TIMETODAY.ID, BOGOR – Senin (3/3/2025) malam, Kampung Curug di Desa Bojongkoneng, Kabupaten Bogor, Jawa barat dilanda bencana pergerakan tanah. Hujan deras yang mengguyur sejak sore hari, bagai air bah yang menggerus tanah, membuat bumi tempat warga berpijak bergeser tak terkendali. Pukul 23.00 WIB, kegelisahan warga memuncak, rumah-rumah mereka retak, bahkan ambruk, seolah ditelan bumi.
“Hujan deras yang berlangsung cukup lama menyebabkan pergeseran tanah, merusak rumah-rumah warga di wilayah tersebut,” ungkap Adam Hamdani, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Selasa (4/3/2025).
Kampung Curug, yang terbagi menjadi dua RT, menjadi saksi bisu amukan alam. Di RT 01/09, tiga rumah hancur lebur, merenggut tempat tinggal yang dihuni 17 jiwa. Dua rumah lainnya mengalami kerusakan sedang, membuat delapan jiwa kehilangan rasa aman.
Sementara itu, di RT 02/09, kerusakan lebih parah terjadi. Tiga belas rumah rata dengan tanah, 25 rumah rusak sedang, dan 24 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan. Total, 168 jiwa dari 43 keluarga terpaksa mengungsi, mencari perlindungan di kontrakan terdekat dan rumah sanak saudara.
“Warga mengungsi di kontrakan terdekat di wilayah Bojong Koneng dan sebagian mengungsi di rumah saudaranya,” jelas Adam.
Bencana ini tak hanya merenggut tempat tinggal, tetapi juga memutus akses jalan menuju Curug Bidadari, salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Bogor. Tanah yang bergeser membuat jalanan retak dan tidak dapat dilalui, seolah alam ingin menunjukkan kuasanya.
Saat ini, Kampung Curug bagai kota mati, ditinggalkan penghuninya. BPBD Kabupaten Bogor terus memantau situasi, memastikan tidak ada pergerakan tanah susulan yang membahayakan.
Tenda-tenda darurat dari Kementerian Sosial (Kemensos) telah didirikan, menjadi rumah sementara bagi para pengungsi, tempat mereka berbagi duka dan harapan.
“Tenda darurat dari Kementerian Sosial (Kemensos) juga telah didirikan untuk menampung pengungsi dan sebagai titik kumpul apabila pergerakan tanah kembali terjadi,” tambah Adam.
Meskipun tidak ada korban jiwa, luka yang ditinggalkan bencana ini sangat dalam. Ratusan jiwa kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian terancam, dan trauma mendalam membayangi.
Namun, di tengah kepedihan, semangat gotong royong dan solidaritas warga tetap menyala, menjadi secercah harapan di tengah kepiluan.
Editor : B. Supriyadi
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































