
TIMETODAY.ID, SUKABUMI – Dua pekan berlalu sejak bencana pergerakan tanah meluluhlantakkan Desa Lembur Sawah, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. Namun, derita masih menyelimuti sekitar 600 warga yang kini bertahan di tenda pengungsian yang jauh dari kata layak.
Kehidupan di pengungsian ini, diwarnai minimnya fasilitas seperti kasur, selimut, hingga akses tenaga medis, terus menguji ketabahan mereka.
Di tengah situasi sulit ini, Kepala Desa Lembur Sawah, Jama, berjuang keras untuk memastikan warganya mendapat tempat tinggal yang lebih aman.
“Sebagian besar rumah sudah rusak parah, tidak mungkin ditinggali lagi. Harapan mereka hanya satu, segera direlokasi,” ungkap Jama di sela-sela kesibukannya di posko pengungsian.
Namun, rencana relokasi tidak semudah yang dibayangkan. Jama menawarkan solusi dengan menyediakan tanah desa seluas lima hektare untuk tempat tinggal baru.
Sayangnya, lahan tersebut masih digarap oleh warga, dan dana Rp200 juta diperlukan untuk ganti rugi.
“Kami bernegosiasi untuk membayar separuh harga, yaitu Rp40 juta per hektare, tapi tetap saja butuh bantuan dana yang besar,” jelasnya.
Papan Bambu dan Hawa Dingin
Kondisi di pengungsian pun memprihatinkan. Setiap malam, warga hanya bisa tidur di atas papan bambu berlapis karpet plastik. Kasur yang tersedia sangat terbatas dan hanya diberikan kepada warga yang sangat membutuhkan.
“Malam hari dingin sekali. Kami hanya bisa bertahan seadanya,” keluh seorang pengungsi.
Selain itu, keberadaan tenaga medis hanya tersedia pada siang hari, dan itupun sangat terbatas.
“Kalau malam ada yang sakit, kami bingung. Untung ada relawan yang sesekali membantu,” ungkap Jama.
Meski dapur umum dan sembako masih mencukupi hingga bulan depan, akses jalan menuju pengungsian menjadi masalah tersendiri. Lumpur dan jalanan yang becek sering kali menghambat distribusi bantuan dan aktivitas warga.
Harapan di Tengah Bencana
Di tengah kondisi yang serba sulit ini, warga menggantungkan harapan besar pada pemerintah Kabupaten Sukabumi. Relokasi ke tempat yang lebih aman menjadi asa yang terus mereka jaga.
“Kami hanya ingin hidup tenang tanpa rasa takut. Di sini, bayangan bencana terus menghantui,” ucap Jama penuh harap.
Bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak terus berdatangan. Salah satunya dari PEKA PWI Kota Bogor yang membawa kebutuhan pokok dan perhatian khusus bagi anak-anak.
Ketua PEKA, Yudi Irawan, menyampaikan keprihatinannya setelah melihat kondisi pengungsian.
“Anak-anak di sini membutuhkan trauma healing agar tidak jenuh. Kebutuhan dasar juga harus dipenuhi supaya mereka tetap sehat,” tuturnya.
Di balik semua kesulitan ini, ada semangat untuk bangkit. Warga Desa Lembur Sawah terus bertahan dengan doa dan usaha, berharap langkah relokasi segera terwujud agar mereka bisa memulai hidup baru tanpa rasa takut akan bencana. ***






































