
TIMETODAY.ID, BOGOR – Di usianya yang tak lagi muda, Maman (55) masih setia menyusuri tepi jalanan Puncak, menjajakan dagangannya kepada para pengendara yang terjebak macet.
Bagi pria yang telah lima tahun berjualan sebagai pedagang asongan ini, kemacetan bukanlah sekadar hambatan lalu lintas, melainkan peluang rezeki yang harus dimanfaatkan.
“Ya gimana lagi, saya cuma bisa ngandelin kemacetan. Kalau ada macet, saya kejar,” ujar Maman, sembari tersenyum.
Ia kerap memantau peta digital untuk mencari lokasi kemacetan. Di sanalah ia berharap dagangannya laris.
Saat musim liburan atau akhir pekan, pendapatannya bisa mencapai Rp150 ribu per hari. Namun, di hari biasa, ia harus puas dengan penghasilan tak lebih dari Rp30 ribu.
“Alhamdulillah, lumayan. Kalau macet, ada penghasilan. Kalau enggak, ya seadanya,” katanya.
Tak banyak pilihan yang dimiliki Maman. Di usianya sekarang, tenaga sudah tak sekuat dulu. Ia ingin bekerja, tapi tak banyak lapangan kerja yang bisa menerimanya.
“Kalau sudah tua begini, jarang ada yang mau. Enggak punya tenaga lagi,” tuturnya pelan.
Maman bekerja bukan untuk dirinya sendiri. Ada istri dan tiga anak di rumah yang harus ia nafkahi. Meski pendapatannya tak menentu, ia terus berjuang agar keluarganya bisa bertahan.
“Saya harus cari usaha buat anak istri,” tuturnya dengan suara bergetar.
Meski kehidupan tak selalu berpihak kepadanya, Maman tetap menjalani hari-harinya dengan penuh keikhlasan. Baginya, rezeki tak hanya soal angka, tetapi juga tentang kesabaran dan ketekunan.
“Ramai atau enggaknya itu relatif, tergantung tekad kita,” ujar Maman menutup wawancara. ***
Reporter : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































