
TIMETODAY.ID, BOGOR – Sintia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah sedemikian cepat. Perempuan 23 tahun asal Yogyakarta itu datang merantau demi masa depan yang lebih baik. Kini, ia berdiri di depan Gedung Tegar Beriman, Cibinong, Jawa Barat bukan untuk merayakan sesuatu, melainkan untuk menuntut jawaban.
Senin (4/5/2026), Sintia bergabung dalam aksi Aliansi Masyarakat Cigudeg, Rumpin, dan Parungpanjang (AMCRP). Di bawah terik siang, ia menjadi satu dari sekian banyak warga yang hidupnya bergantung pada denyut tambang, dan ikut berhenti ketika tambang itu ditutup.
“Semenjak PT ditutup, saya tetap harus bayar kontrakan dan biaya sekolah anak, tapi tidak ada pemasukan apa-apa,” tuturnya, suaranya menyimpan lelah.
Suaminya dulu bekerja di perusahaan tambang berizin. tambang liar, bukan usaha gelap, semuanya, kata Sintia, sudah sesuai aturan. Namun izin tak lantas menjadi jaminan. Perusahaan itu kini masih tutup, sementara Sintia mendengar kabar bahwa ada tambang-tambang lain yang kembali beroperasi.
“Kita yang berizin aja masih ditutup, kenapa yang ilegal ada yang dibuka?” tanyanya,”lirihnya
“Bapak Dedi Mulyadi tahu, malah diam saja,” ketusnya.
Pertanyaan itu tidak butuh jawaban retoris. Bagi Sintia, itu adalah kegelisahan nyata yang menghantui tiap pagi ketika ia membuka dompet dan mendapatinya hampir kosong.
Agar dapur tetap mengepul, suaminya memilih jalan lain. Ia kini bertani, menanam bawang, mengumpulkan pupuk kandang dari kotoran kambing, menunggu panen yang belum tentu menjanjikan.
“Paling kadang seminggu cuma dapat 200 ribu,” keluh Sintia.
“Kita juga harus bertahan hidupnya. Apalagi saya perantau, tidak ada keluarga yang bisa diandalkan di sini,” keluhnya
Dua ratus ribu rupiah seminggu. Sementara kontrakan, makan, dan sekolah anak terus berjalan tanpa jeda.
Di ujung percakapan, Sintia tidak mengutarakan tuntutan yang muluk-muluk. Tidak meminta ganti rugi besar, tidak menuntut jabatan atau janji-janji politik.
“Kami cuma minta kejelasan, kapan tambang dibuka kembali,” ucapnya.
Kalimat itu sederhana. Tapi di baliknya ada seorang ibu muda yang merantau jauh dari kampung halaman, kini berjuang keras hanya untuk bertahan, sambil menunggu sebuah kepastian yang tak kunjung datang.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































