TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di tengah impian banyak mahasiswa untuk mengenyam pendidikan di luar negeri, arah tujuan studi global mulai menunjukkan pergeseran. Jika sebelumnya negara-negara Barat mendominasi, kini sorotan beralih ke Asia—tepatnya China yang kian mengukuhkan diri sebagai magnet baru bagi pelajar internasional.
Berdasarkan laporan Times Higher Education, jumlah mahasiswa asing yang menempuh studi di China mencapai sekitar 380.000 orang, berasal dari 191 negara dan wilayah. Angka ini mencerminkan tren peningkatan minat yang signifikan pada tahun akademik 2024–2025.
Fenomena ini tak lepas dari strategi diplomasi pendidikan melalui program Belt and Road Initiative, yang sukses menarik minat pelajar terutama dari Asia dan Afrika untuk mengambil program gelar di berbagai universitas ternama di Negeri Tirai Bambu.
Di antara berbagai bidang studi, sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi primadona. Sekitar 28 persen mahasiswa internasional memilih jurusan seperti teknik, teknologi terapan, dan ilmu komputer—menandakan kuatnya daya tarik China di bidang sains dan teknologi.
Dominasi pelajar dari Asia mencapai 61 persen, sementara Afrika menyumbang 16 persen. Tren ini dinilai sebagai bagian dari pengaruh geopolitik China yang semakin kuat, khususnya di kawasan Global South.
Deputy Director Higher Education Research Division di Tsinghua University, Wen Wen, menilai pergeseran ini bukan terjadi secara kebetulan.
“Ada pergeseran strategis dalam asal-usul mahasiswa, dengan pertumbuhan signifikan dari Afrika dan negara-negara Belt and Road, yang selaras dengan penjangkauan diplomatik dan ekonomi China yang lebih luas,” ungkap Wen Wen.
Di sisi lain, jumlah mahasiswa dari Amerika Serikat justru mengalami penurunan tajam, dari sekitar 11.000 menjadi kurang dari 1.000 orang. Kondisi ini memperlihatkan adanya perubahan preferensi dalam peta pendidikan global.
Daya tarik China juga diperkuat oleh kombinasi biaya pendidikan yang relatif terjangkau dan kualitas riset yang terus meningkat. Manajer Cabang China di konsultan Bonard, Graze Zhu, menyebut adanya perubahan orientasi pendidikan di negara tersebut.
“Ada pergeseran dari fokus masa lalu pada bahasa dan budaya ke kenyataan baru di mana kemampuan industri yang kuat telah secara langsung bertransformasi menjadi keunggulan kompetitif inti dalam daya tarik pendidikan,” jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan CEO Global Admissions, Richard Coward.
“Kursus STEM di China menarik karena biaya kuliah yang terjangkau, permintaan dari seluruh dunia, serta kualitas dan sumber daya yang tinggi di China,” ujarnya.
Meski jumlah mahasiswa asing sudah besar, China masih membutuhkan waktu untuk kembali ke puncak sebelum pandemi yang sempat mencapai 492.000 mahasiswa pada 2018. Untuk itu, pemerintah terus melakukan berbagai pembenahan, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan hingga penyederhanaan regulasi visa dan kerja paruh waktu bagi mahasiswa.
Wen Wen menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.
“Secara keseluruhan, China harus menanamkan lingkungan yang lebih internasional yang menumbuhkan lingkungan yang lebih terbuka, layak huni, dan bersemangat secara budaya bagi semua orang,” tegasnya.
Seiring meningkatnya minat tersebut, sejumlah kampus elite seperti Peking University dan Fudan University tetap menjadi tujuan utama. Sementara universitas berbasis teknik seperti Zhejiang University dan Shanghai Jiao Tong University semakin diminati oleh pemburu gelar di bidang STEM.
Di luar China, tren mobilitas pelajar global juga mulai meluas ke negara lain seperti Jepang, Malaysia, Korea Selatan, hingga kawasan Timur Tengah dan Eropa. Namun untuk saat ini, China tampak berada di garis depan sebagai pusat pendidikan baru yang terus berkembang di panggung internasional.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































