TIMETODAY.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pasukan militernya telah menembaki dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran di perairan Teluk Oman. Insiden ini langsung memicu respons keras dari pihak Iran yang berjanji akan melakukan pembalasan.
Juru bicara pusat komando militer Iran, Khatam Al-Anbiya, menegaskan bahwa tindakan tersebut dianggap sebagai “pembajakan bersenjata” oleh militer AS. Ia menyebut angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera merespons.
“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera menanggapi dan membalas pembajakan bersenjata ini dan militer AS,” ujarnya, seperti dikutip dari kantor berita ISNA dan dilansir AFP, Senin (20/4/2026).
Iran juga menuduh Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang disebut berlaku sejak 8 April lalu.
Sebelumnya, Trump melalui unggahan di platform Truth Social mengungkapkan bahwa kapal kargo Iran bernama Touska mencoba menerobos blokade Angkatan Laut AS. Kapal tersebut kemudian dicegat oleh kapal perusak rudal terarah USS Spruance.
Menurut Trump, peringatan telah diberikan kepada awak kapal, namun tidak diindahkan. Pasukan AS kemudian melumpuhkan kapal dengan menargetkan ruang mesin sebelum akhirnya mengamankan kapal tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak dan gas dunia. Kawasan tersebut dilaporkan sempat ditutup menyusul konflik antara AS, Israel, dan Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Iran sebelumnya membuka kembali jalur tersebut sebagai bagian dari respons terhadap gencatan senjata di Lebanon, namun kembali menutupnya setelah menilai adanya pelanggaran dari pihak AS.
Pemerintah AS juga menyebut kapal Touska telah masuk dalam daftar sanksi Departemen Keuangan karena dugaan keterlibatan dalam aktivitas ilegal sebelumnya. Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa sebelum insiden, kapal tersebut berada di perairan dekat Chabahar, Iran, dan dilaporkan berlayar dari Malaysia.
Hingga kini, situasi di kawasan masih tegang, dengan potensi eskalasi konflik yang terus menjadi perhatian dunia internasional.***





































