TIMETODAY.ID, JAKARTA – Realisasi belanja negara sepanjang kuartal pertama 2026 melonjak 31,4 persen secara tahunan menjadi Rp815 triliun, jauh melampaui pertumbuhan pendapatan yang hanya 10,5 persen atau Rp574,9 triliun. Akibatnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Maret 2026 mencatat defisit Rp240,1 triliun, setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, lonjakan belanja itu bukan anomali, melainkan strategi yang disengaja. Pemerintah mempercepat realisasi anggaran sejak awal tahun agar dampak ekonominya lebih merata dan tidak menumpuk di penghujung tahun seperti pola sebelumnya.
“Karena kita percepat belanja pemerintah. Saya ingin menciptakan di mana belanja pemerintah hampir merata pertumbuhannya sepanjang tahun,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dikutip cnnindonesia.com, Senin (13/4/2026).
Ia menyebut defisit yang melebar merupakan konsekuensi logis dari kebijakan tersebut.
“Jangan sampai kayak tahun-tahun sebelumnya, numpuk di akhir tahun sehingga dampak ekonominya tidak optimal,” tegasnya.
Pengawasan Diperketat
Di balik agresivitas belanja, pemerintah menegaskan kualitas pengeluaran tetap diawasi ketat. Kementerian dan lembaga yang dinilai tidak disiplin akan mendapat peringatan, bahkan pembayaran bisa ditangguhkan.
“Kalau belanjanya ngawur, nanti kita kasih peringatan. Bahkan kalau diteruskan, kita bisa bilang itu tidak akan saya bayar,” kata Purbaya. Mekanisme serupa diklaim telah berhasil menjaga efisiensi belanja pada 2025.
Dari struktur belanja, pos terbesar ditempati belanja pemerintah pusat senilai Rp610,3 triliun, mencakup belanja kementerian dan lembaga Rp281,2 triliun serta non-kementerian dan lembaga Rp329,1 triliun. Transfer ke daerah tercatat Rp204,8 triliun. Badan Gizi Nasional disebut sebagai salah satu pos yang menonjol karena besarnya nilai anggaran.
Pendapatan dan Proyeksi
Dari sisi penerimaan, perpajakan mencapai Rp462,7 triliun, terdiri atas pajak Rp394,8 triliun serta kepabeanan dan cukai Rp67,9 triliun. Penerimaan negara bukan pajak tercatat Rp112,1 triliun dan hibah Rp100 miliar.
Meski defisit kuartal pertama melebar, pemerintah justru optimistis realisasi defisit APBN 2025 berakhir di kisaran 2,8 persen, lebih baik dari target awal 2,91 persen. Purbaya juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional dapat menembus 5,5 persen, ditopang terutama oleh sektor swasta yang mendominasi sekitar 90 persen aktivitas ekonomi.
“Kalau ekonominya bagus, pendapatan saya bagus. Nanti uang yang saya bagi ke kementerian juga lebih konsisten,” ujarnya





































