TIMETODAY.ID, JAKARTA — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi melangkah maju dalam upaya memperbaiki pola konsumsi masyarakat. Melalui kebijakan baru, lembaga ini menyetujui penerapan sistem pelabelan gizi “Nutri-Level” pada produk pangan olahan, sebagai bagian dari strategi menekan angka Penyakit Tidak Menular (PTM).
Kebijakan tersebut ditandai dengan penandatanganan rancangan revisi aturan oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Taruna Ikrar, pada Senin. Revisi ini mengatur penambahan label gizi di bagian depan kemasan atau front of pack nutrition labelling (FOPNL), yang diharapkan lebih mudah dibaca oleh konsumen.
Dalam skema ini, Nutri-Level akan menampilkan kategori produk berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL). Penilaiannya dibagi menjadi empat tingkat, mulai dari A hingga D, yang dilengkapi dengan kode warna—hijau tua untuk pilihan paling rendah kandungan GGL, hingga merah sebagai penanda produk yang sebaiknya dibatasi konsumsinya.
“Dengan pelabelan Nutri-Level diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih produk yang lebih sehat,” ujar Taruna dalam keterangan tertulis.
Ia menegaskan, keberadaan label tersebut bukan dimaksudkan untuk melarang konsumsi produk tertentu. Sebaliknya, Nutri-Level dirancang sebagai panduan sederhana agar masyarakat bisa lebih mudah membandingkan kualitas gizi antarproduk.
Implementasinya akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari kategori minuman. Pada fase awal, kebijakan ini bersifat sukarela sebelum nantinya diterapkan secara wajib. Pemerintah memberi ruang transisi agar pelaku industri memiliki waktu untuk menyesuaikan diri.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap tren penyakit tidak menular di Indonesia. Data dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives menunjukkan, Indonesia kini berada di peringkat kelima dunia untuk jumlah penderita diabetes. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan pola konsumsi masyarakat yang tinggi gula, garam, dan lemak.
Tak hanya itu, angka obesitas juga tercatat meningkat signifikan dalam 15 tahun terakhir, menjadi sinyal bahwa intervensi berbasis informasi—seperti pelabelan gizi—semakin mendesak.
Dengan hadirnya Nutri-Level di kemasan, pemerintah berharap keputusan kecil di rak supermarket dapat berkontribusi pada perubahan besar dalam kesehatan masyarakat.***
Editor : Syafira
Sumber : CNBCIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































