TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan yang melibatkan Israel ke Lebanon memicu reaksi keras dari Iran. Situasi ini bahkan berpotensi menggagalkan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya mulai diupayakan.
Iran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran serius, yang bisa memperburuk konflik kawasan. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara geopolitik, tetapi juga merembet ke sektor ekonomi global, terutama energi dan pertanian.
Dampak ke BBM dan pupuk global
Konflik di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital energi dunia berdampak langsung pada distribusi gas alam cair (LNG). Padahal, kawasan ini menyuplai sekitar 40 persen kebutuhan nitrogen dunia—bahan utama dalam produksi pupuk.
Terganggunya distribusi ini membuat rantai pasok pupuk global ikut terdampak. Indonesia sendiri masih sangat bergantung pada impor bahan baku pupuk, termasuk fosfor dari Eropa dan negara-negara Arab, yang kini menghadapi risiko keamanan serta lonjakan biaya logistik.
Dalam konferensi pers, Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Suryo Wiyono menegaskan:
“Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku. Sekitar 42,89 persen bahan baku pupuk fosfor berasal dari Eropa dan negara-negara Arab yang kini terhambat risiko keamanan serta lonjakan biaya asuransi pengiriman.”
Teknologi biointensif sebagai solusi
Merespons tekanan tersebut, IPB menawarkan pendekatan teknologi biointensif sebagai alternatif. Metode ini mengandalkan keseimbangan ekosistem tanah, mikroorganisme, serta tanaman yang lebih tahan terhadap stres lingkungan.
“Pendekatan ini mencakup budidaya padi biointensif yang mampu mengurangi penggunaan pupuk pabrikan hingga 30 persen dan pestisida hingga 70 persen tanpa menurunkan hasil produksi,” jelas Suryo.
Teknologi ini mencakup praktik seperti rotasi tanaman, tumpang sari, penggunaan pupuk hijau, hingga sistem organik. Selain lebih hemat biaya, pendekatan ini juga dinilai ramah lingkungan dan berkelanjutan karena berbasis sumber daya lokal.
Ia menambahkan:
“Pada komoditas padi, penerapan teknologi biointensif menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 24 persen, penurunan biaya produksi sekitar 20 persen, pengurangan penggunaan pupuk sebesar 30 persen, serta penurunan penggunaan pestisida hingga 77 persen.”
Dampak ke petani dan ekspor
Konflik ini juga menekan daya ekspor komoditas pertanian Indonesia. Negara tujuan utama seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi yang berada di kawasan Timur Tengah kini sulit diakses.
Di sisi lain, petani dalam negeri menghadapi tekanan biaya produksi. Harga pupuk nitrogen tercatat naik hingga 32,4 persen, sementara pestisida diperkirakan meningkat 20–30 persen. Kenaikan harga BBM juga ikut memperbesar beban operasional, terutama untuk transportasi dan penggunaan alat mesin pertanian.
Strategi ke depan
Sebagai langkah adaptasi, IPB juga mendorong penggunaan energi terbarukan seperti biogas, panel surya, biomassa, hingga energi angin untuk mengurangi ketergantungan pada BBM fosil.
“Dengan berbagai keunggulan tersebut, kami menilai teknologi biointensif dapat menjadi solusi strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan krisis global,” tutup Suryo.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik tak hanya soal perang, tetapi juga berdampak langsung pada dapur masyarakat—mulai dari harga BBM hingga ketersediaan pangan.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































