Iran Perkenalkan Sistem Rudal Kembar, Tekanan ke Pertahanan Israel Meningkat

Iran
rudal kembar milik iran. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memasuki babak baru. Dalam serangan balasan terbarunya ke Israel, Iran memperkenalkan teknologi peluncur rudal kembar yang diklaim mampu meningkatkan intensitas serangan secara signifikan.

Langkah ini diumumkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps sebagai bagian dari “fase baru” strategi militer mereka. Sistem tersebut tidak menghadirkan jenis rudal baru, melainkan memodifikasi cara peluncuran agar lebih efisien dan sulit diantisipasi.

“Dengan peluncur kembar yang telah diperbarui, kapasitas serangan kami meningkat dua kali lipat dibanding sebelumnya,” ujar Komandan Angkatan Udara IRGC, Seyyed Majid Mousavi.

Advertisement
  1. Satu Platform, Dua Rudal Sekaligus

Berbeda dengan sistem konvensional, peluncur ini memungkinkan dua rudal ditembakkan hampir bersamaan dari satu kendaraan. Artinya, tanpa menambah jumlah peluncur, volume serangan bisa langsung berlipat.

Dua jenis rudal yang digunakan dalam skema ini antara lain:

  • Fateh series, rudal balistik berbahan bakar padat dengan akurasi tinggi untuk jarak pendek hingga menengah.
  • Kheibar Shekan, rudal jarak menengah dengan jangkauan hingga 1.450 kilometer dan kemampuan manuver untuk menghindari intersepsi.
  1. Taktik Mobilitas dan Kamuflase
Baca Juga :  Realme C85 5G Resmi Rilis, Tahan Air IP69 dan Baterai 7.000mAh

Sistem ini juga mengadopsi strategi shoot-and-scoot—meluncurkan rudal lalu segera berpindah lokasi guna menghindari serangan balasan. Peluncur ditempatkan di atas truk komersial beroda besar yang dapat disamarkan sebagai kendaraan sipil.

Pendekatan ini membuat deteksi dini menjadi lebih sulit, sekaligus memperpendek waktu respons lawan.

  1. Ancaman bagi Sistem Pertahanan Berlapis

Di sisi lain, Israel mengandalkan sistem pertahanan udara berlapis seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow.

Namun, sistem tersebut memiliki batas kapasitas intersepsi. Ketika jumlah rudal meningkat dalam waktu singkat, risiko overload pun meningkat.

Situasi ini semakin kompleks dengan penggunaan hulu ledak cluster munition, yang memecah menjadi banyak submunisi di udara. Satu target besar bisa berubah menjadi puluhan target kecil, membebani sistem pertahanan secara simultan.

  1. Respons dan Dampak di Lapangan

Militer Israel menyatakan sebagian besar serangan masih berhasil dicegat, meski mengakui adanya tekanan akibat lonjakan intensitas serangan. Sejumlah laporan menyebutkan kerusakan di beberapa wilayah serta korban sipil akibat serpihan munisi.

Baca Juga :  Redmi Note 15 Pro dan Pro+: Smartphone Tangguh yang Siap Temani Aktivitas Ekstrem

Sementara itu, operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel untuk menghancurkan infrastruktur peluncur Iran diklaim berhasil menekan frekuensi peluncuran harian.

  1. Adaptasi Taktis di Tengah Tekanan

Analis militer menilai inovasi ini bukan terletak pada kecanggihan teknologi, melainkan pada pendekatan taktis yang sederhana namun efektif.

“Iran tidak perlu menciptakan rudal baru. Mereka cukup memaksimalkan sistem yang ada untuk meningkatkan daya gempur,” ujar seorang analis pertahanan.

Meski demikian, sejumlah pihak masih meragukan sejauh mana efektivitas sistem ini, termasuk klaim keberhasilan serangan yang belum dapat diverifikasi secara independen.

Di tengah tekanan militer yang terus berlangsung, kemunculan sistem peluncur kembar ini menunjukkan satu hal: dinamika konflik tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi di medan tempur.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel