TIMETODAY.ID, JAKARTA — Sebulan setelah konflik di Iran pecah, dampaknya tak lagi terbatas pada sektor energi. Krisis mulai merambat ke kehidupan sehari-hari, ketika kelangkaan minyak mentah memicu gangguan pasokan berbagai barang kebutuhan.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz, disebut telah memangkas sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Kondisi ini bukan hanya mendorong lonjakan harga energi, tetapi juga mengganggu industri petrokimia sektor yang menjadi tulang punggung produksi barang seperti plastik, tekstil, hingga kemasan.
Tekanan tersebut kini mulai terasa hingga ke tingkat konsumen. Harga bahan turunan minyak seperti plastik, karet, dan poliester dilaporkan meningkat, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor energi untuk menopang industri manufakturnya.
Di sejumlah negara, dampaknya bahkan terlihat nyata. Di Korea Selatan, warga dilaporkan mulai memborong kantong sampah akibat kekhawatiran kelangkaan.
Pemerintah setempat pun mengimbau pengurangan penggunaan barang sekali pakai. Sementara itu, Taiwan membuka layanan hotline bagi produsen yang kesulitan mendapatkan pasokan plastik.
Gangguan juga menjalar ke sektor pangan dan kesehatan. Petani beras menghadapi kendala dalam memperoleh kemasan vakum, yang berpotensi mendorong kenaikan harga.
Di Jepang, muncul kekhawatiran layanan medis terganggu akibat terbatasnya selang berbahan plastik untuk pasien gagal ginjal. Sedangkan di Malaysia, produsen sarung tangan memperingatkan ancaman terhadap pasokan global karena bahan baku lateks semakin langka.
Fenomena ini menunjukkan betapa luasnya dampak krisis energi.
“Dampaknya sangat cepat menyebar ke berbagai sektor, dari bir, mi instan, keripik, mainan hingga kosmetik,” kata Dan Martin dari Dezan Shira & Associates.
Menurutnya, kelangkaan komponen sederhana seperti tutup botol hingga kontainer plastik telah mengganggu rantai produksi. Turunan minyak sendiri digunakan dalam berbagai proses, mulai dari perekat, pelumas mesin, hingga bahan kimia industri.
Kenaikan harga energi turut memperberat sektor transportasi dan logistik, memperpanjang efek domino ke berbagai lini ekonomi.
Bahkan, pasokan bahan lain dari Timur Tengah seperti pupuk dan helium ikut terganggu, yang berpotensi memicu kenaikan harga pangan dan produk elektronik.
Dana Moneter Internasional menilai, efek rambatan ini terjadi di saat banyak negara memiliki ruang terbatas untuk meredam tekanan ekonomi.
Apa pun arah konflik ke depan, lembaga tersebut memperkirakan dampaknya akan tetap sama: harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Dalam situasi ini, krisis energi tak lagi sekadar isu minyak dan gas, tetapi telah menjelma menjadi tekanan global yang menyentuh hampir setiap aspek kehidupan.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































