Iran Pasang Syarat untuk Selat Hormuz, Dampak Global Kian Menguat

Iran
Selat Hormuz. Foto: AP

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di tengah memanasnya konflik kawasan, Iran membuka peluang untuk kembali mengaktifkan jalur vital energi dunia, Selat Hormuz. Namun, langkah itu tak datang tanpa syarat.

Pemerintah Iran menyatakan kesediaannya membuka kembali jalur pelayaran internasional tersebut, dengan catatan adanya kontribusi biaya dari kapal-kapal yang melintas. Dana itu, menurut Teheran, akan digunakan untuk menutup kerugian akibat serangan militer yang terjadi selama konflik berlangsung.

Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya jika sebagian dari pendapatan transit digunakan untuk mengganti semua kerusakan disebabkan oleh perang yang dipaksakan,” ujar Mehdi Tabatabai, pejabat komunikasi Kantor Kepresidenan Iran, dalam pernyataannya di media sosial, Senin (6/4/2026).

Advertisement
Baca Juga :  Kebakaran di Hotel des Grandes Alpes, 90 Orang Selamat dari Api

Pernyataan itu mencerminkan posisi Iran yang kini mencoba menyeimbangkan antara tekanan geopolitik dan kepentingan ekonomi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia, sehingga setiap kebijakan yang diambil akan berdampak luas.

Di sisi lain, ketegangan belum menunjukkan tanda mereda. Tabatabai turut melontarkan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dinilai terus mengeluarkan pernyataan bernada ancaman.

Ia menilai sikap Trump mencerminkan keputusasaan di tengah eskalasi konflik yang kian meluas. Sebelumnya, Trump dalam sejumlah pernyataan publik bahkan mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran jika akses di Selat Hormuz tidak segera dibuka.

Baca Juga :  5 Kebiasaan yang Membuat Hubungan Renggang Tanpa Disadari

Tak hanya itu, Trump juga sempat menyebut kemungkinan penghancuran infrastruktur vital Iran, mulai dari pembangkit listrik hingga jembatan, jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi dalam waktu dekat.

Situasi ini menempatkan Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan titik tekan geopolitik yang menentukan arah konflik dan stabilitas ekonomi global. Dunia kini menunggu, apakah negosiasi bersyarat ini akan meredakan ketegangan, atau justru membuka babak baru dalam krisis yang semakin kompleks.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel