
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah kini terasa langsung di kantong penumpang pesawat di seluruh dunia. Sejumlah maskapai internasional menaikkan harga tiket menyusul lonjakan harga avtur yang menembus dua kali lipat dari kondisi normal.
Melansir Reuters, Air New Zealand mencatat harga avtur melonjak dari kisaran 85–90 dollar AS per barel menjadi sekitar 150–200 dollar AS per barel sejak meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut. Kondisi ini memaksa maskapai asal Selandia Baru itu menangguhkan seluruh proyeksi keuangan untuk 2026.
Qantas Airways, Scandinavian Airlines (SAS), dan Air New Zealand secara bersamaan mengumumkan penyesuaian tarif pada Selasa (10/3/2026). SAS menyebutnya sebagai langkah sementara demi menjaga kestabilan operasional.
“Kenaikan sebesar ini membuat kami harus mengambil langkah agar operasi tetap stabil dan dapat diandalkan,” ujar juru bicara SAS
Rute Asia–Eropa Terimbas
Gangguan tidak hanya terjadi pada struktur biaya, tetapi juga pada jalur penerbangan. Layanan pelacakan penerbangan Flightradar24 melaporkan sejumlah pesawat yang hendak mendarat di Dubai sempat ditahan di udara pada Selasa akibat ancaman rudal, sebelum akhirnya diizinkan mendarat.
Penutupan sebagian ruang udara kawasan itu memicu lonjakan harga tiket rute Asia–Eropa. Cathay Pacific bahkan menambah penerbangan ekstra ke London dan Zurich guna mengantisipasi lonjakan permintaan.
Qantas juga mempertimbangkan mengalihkan kapasitas penerbangannya ke rute Eropa sebagai respons atas gangguan di Timur Tengah.
Strategi Lindung Nilai Jadi Penyelamat Sementara
Tidak semua maskapai terpukul sama. Lufthansa dan Ryanair yang telah menerapkan strategi lindung nilai bahan bakar (oil hedging) relatif terlindung dari guncangan harga jangka pendek.
Finnair bahkan telah mengamankan lebih dari 80 persen kebutuhan avturnya untuk kuartal pertama 2026. Namun, maskapai Finlandia itu tetap memperingatkan bahwa krisis berkepanjangan dapat mengancam ketersediaan pasokan bahan bakar secara keseluruhan.
“Apabila krisis berlangsung lama, hal itu tidak hanya akan memengaruhi harga bahan bakar, tetapi juga ketersediaannya, setidaknya untuk sementara,” kata juru bicara Finnair.
Kuwait, salah satu pemasok utama avtur ke kawasan Eropa Barat Laut, dilaporkan turut mengalami penurunan produksi akibat instabilitas regional.
Para analis memperingatkan, apabila konflik terus berlarut, tekanan pada industri penerbangan global berpotensi mendorong penurunan permintaan perjalanan udara secara signifikan, pukulan ganda yang belum tentu dapat diredam hanya dengan strategi harga.
Editor : B. Supriyadi
Sumber : Reuters.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































