Militer AS Kurangi Personel di Timur Tengah, Iran Peringatkan Serangan Balasan

Timur Tengah
Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Foto: Planet Labs via AP

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Militer Amerika Serikat menarik ratusan personel militernya dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Langkah tersebut memicu spekulasi luas mengenai potensi eskalasi konflik dengan Iran.

Laporan surat kabar The New York Times yang mengutip pejabat senior Departemen Pertahanan AS menyebutkan, penarikan pasukan tidak hanya terjadi di Al Udeid. Personel militer AS di pangkalan Bahrain—markas Armada Ke-5 Angkatan Laut AS—juga telah dikurangi.

Meski demikian, pejabat Pentagon memastikan keberadaan militer AS masih dipertahankan di sejumlah titik strategis kawasan, termasuk Irak, Suriah, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Uni Emirat Arab.

Advertisement
Baca Juga :  Ketua DPR Greenland Sebut Pasal 5 NATO Bisa Berlaku Jika AS Mengancam

Keputusan ini dinilai sebagai langkah penyesuaian keamanan di tengah meningkatnya tensi regional.

Penarikan pasukan tersebut langsung memunculkan berbagai spekulasi. Sejumlah analis menilai langkah Washington bisa menjadi sinyal persiapan operasi militer, sementara pihak lain melihatnya sebagai tindakan pencegahan untuk meminimalkan risiko korban jika konflik terbuka terjadi.

Peringatan keras datang dari Teheran. Para pejabat Iran menegaskan seluruh pangkalan militer AS di Timur Tengah akan menjadi target sah apabila negaranya diserang lebih dulu.

Ancaman itu bukan tanpa preseden. Pada 22 Juni 2025, Iran meluncurkan rudal balistik ke Pangkalan Al Udeid setelah serangan militer AS terhadap wilayahnya. Pangkalan tersebut merupakan instalasi militer terbesar AS di Timur Tengah dengan sekitar 10.000 personel.

Baca Juga :  RI Gabung Dewan Perdamaian Bentukan Trump, DPR Ingatkan Kewaspadaan

Dalam surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, kepala misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan sikap negaranya.

“Amerika Serikat akan memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas konsekuensi yang tidak terduga dan tidak terkendali,” demikian isi surat tersebut.

Di tengah manuver militer dan saling peringatan diplomatik, kawasan Timur Tengah kembali berada dalam situasi siaga tinggi, menunggu apakah langkah-langkah strategis ini akan berujung pada de-eskalasi atau justru membuka babak baru konflik regional.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel