
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Di saat perhatian dunia masih tertuju pada penyakit menular yang sudah dikenal, para ilmuwan mengingatkan ancaman lain yang perlahan muncul dari dunia hewan. Dua virus baru, influenza D dan canine coronavirus, dinilai memiliki potensi menyebar ke manusia jika tidak diawasi secara ketat.
Peringatan tersebut disampaikan tim ahli penyakit infeksi dalam edisi Januari 2026 jurnal Emerging Infectious Diseases terbitan Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Para peneliti menilai lemahnya pemantauan dan keterbatasan sistem diagnosis dapat membuka jalan bagi munculnya wabah baru.
1. Influenza D mulai menunjukkan tanda adaptasi
Influenza D pertama kali teridentifikasi pada 2011 dan selama ini diketahui menyerang sapi dan babi. Namun, penelitian terbaru menemukan virus ini juga menginfeksi berbagai jenis hewan lain, termasuk unggas dan satwa liar.
Di Amerika Serikat, virus ini diperkirakan menyebabkan kerugian hingga 1 miliar dolar AS per tahun akibat penyakit pernapasan pada ternak. Yang mengkhawatirkan, studi menunjukkan hingga 97 persen pekerja peternakan memiliki antibodi influenza D, menandakan paparan virus tanpa gejala.
CDC juga melaporkan adanya varian influenza D yang diisolasi di Tiongkok dengan indikasi kemampuan penularan antarmanusia.
2. Canine coronavirus tak lagi terbatas pada anjing
Canine coronavirus (CCoV) selama ini dikenal menyebabkan gangguan pencernaan pada anjing dan berbeda dengan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Namun, sejumlah kasus infeksi pada manusia telah dikaitkan dengan pneumonia dan rawat inap, terutama di kawasan Asia Tenggara.
Beberapa strain, termasuk CCoV-HuPn-2018, bahkan ditemukan pada pasien di berbagai negara lintas benua. Temuan ini menunjukkan virus tersebut memiliki kemampuan beradaptasi lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya.
3. Minim kekebalan manusia jadi perhatian utama
Para peneliti menekankan bahwa sebagian besar manusia belum memiliki kekebalan terhadap influenza D maupun canine coronavirus. Kondisi ini berisiko besar jika virus tersebut mengalami mutasi yang memungkinkan penularan antarmanusia secara efisien.
Terbatasnya data epidemiologi dan minimnya tes rutin membuat banyak kasus kemungkinan tidak terdeteksi. Situasi ini dinilai mirip dengan pola awal sejumlah pandemi sebelumnya.
4. Ilmuwan dorong peningkatan pemantauan global
CDC menyerukan peningkatan sistem pemantauan virus, pengembangan alat diagnostik yang lebih sensitif, serta riset lanjutan terkait pengobatan dan vaksin. Langkah ini dianggap penting agar dunia tidak kembali terlambat menyadari ancaman yang sebenarnya sudah lama mengintai.
Para ahli sepakat, kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci untuk mencegah krisis kesehatan global di masa depan. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































