Pesan Terakhir sebelum Bertugas, Suami Warga Bogor Jadi Korban Pesawat Jatuh di Sulsel

Bogor
Istri korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 menunjukkan foto suaminya, Dwi Murdiono, saat ditemui di kediamannya di Tajur Halang, Kabupaten Bogor, sambil menanti kabar pencarian dan berharap suaminya dapat ditemukan dalam kondisi selamat. Foto : bogortoday.com/Rifki Ramadhan.

TIMETODAY.ID, BOGOR — Sabtu pagi, 18 Januari 2026, menjadi awal hari yang tak biasa bagi Sinta Jayanti. Tepat pukul 07.58 WIB, perempuan asal Kabupaten Bogor itu masih sempat bertukar pesan singkat dengan sang suami, Dwi Murdiono, sebelum berangkat menjalankan tugas.

“Mih, Abi nanti jam delapan kalau nggak diundur berangkat ya,” tulis Dwi melalui pesan singkat. Seperti rutinitas selama ini, Sinta membalas dengan doa, “Iya, Bismillah ya, hati-hati.”

Pesan itu menjadi komunikasi terakhir pasangan suami istri tersebut. Beberapa jam kemudian, Dwi Murdiono, pegawai bidang engineering PT Indonesia Air Transport, dilaporkan menjadi korban dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, Sabtu sore.

Advertisement
Baca Juga :  Memiliki Tujuan Yang Sama, PDIP Beri Sinyal Sulhajji Jompa Maju Pilkada Kabupaten Bogor 2024

Dwi merupakan salah satu korban asal Kabupaten Bogor dalam tragedi tersebut. Hingga kini, Sinta masih menunggu kepastian tentang nasib suaminya—seseorang yang selalu memberi kabar setiap kali mendarat dengan selamat usai bertugas.

Sekitar pukul 12.00 WIB, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke ponsel Sinta. Ia mengira penelepon itu adalah sang suami. Dwi memang kerap menggunakan kartu SIM berbeda saat bekerja.

“Dikira nomor suami. Saya pikir, kenapa ada telepon dari kantor. Terus saya bilang, Bismillah aja, percaya,” tutur Sinta saat ditemui di kediamannya di Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Senin (19/1/2026).

Namun rasa cemas mulai menyelimuti. Dua jam berselang, sekitar pukul 14.00 WIB, pesan WhatsApp kembali diterima dari pihak kantor. Kali ini bukan kabar kepulangan, melainkan permintaan doa. Dwi dinyatakan hilang kontak.

Baca Juga :  Tahun Politik, HIPMI Kabupaten Bogor Akui Banyak Kebijakan Tak Pasti    

Sinta mengaku sudah terbiasa menerima kabar dari suaminya setiap selesai menjalankan tugas penerbangan.

“Biasanya kalau landing ngabarin. Kadang kalau nggak sibuk ngabarin, kalau sibuk ya paling ngabarin kalau udah sampai Jakarta lagi,” ujarnya lirih.

Namun kali ini, pesan yang dinanti tak kunjung tiba. Hingga berita ini ditulis, keluarga masih menggenggam harapan akan adanya mukjizat. Sinta bersama keluarga besar terus mengikuti perkembangan pencarian yang dilakukan tim terkait.

“Harapannya semoga cepat ketemu, nggak ada yang kurang selamat orangnya. Di kantor juga masih ngasih info terus,” kata Sinta, dengan suara bergetar.***

Editor : Syafira

Sumber : Bogortoday.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel