Banjir dan Longsor Hantam Lahan Pertanian, Pemerintah Targetkan Pemulihan 13.708 Hektare

pertanian
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) meninjau kondisi lahan sawah terdampak banjir dan longsor di Sumatra. Foto: Dok. Humas Kementan

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra meninggalkan dampak serius pada sektor pertanian. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat hampir 100.000 hektare lahan sawah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mengalami kerusakan, sehingga pemerintah memutuskan untuk mempercepat langkah rehabilitasi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut total lahan terdampak mencapai 98.002 hektare. Dari jumlah tersebut, Aceh menjadi wilayah dengan kerusakan terluas, yakni 54.233 hektare yang tersebar di 21 kabupaten dan kota. Sementara itu, Sumatra Utara mencatat 37.318 hektare di 15 kabupaten/kota dan Sumatra Barat 6.451 hektare di 14 kabupaten/kota.

Dari keseluruhan lahan terdampak, sebagian besar masuk dalam kategori kerusakan ringan hingga sedang.

Advertisement

Total luasnya mencapai 69.240 hektare, yang terdiri atas 48.969 hektare rusak ringan dan 20.271 hektare rusak sedang.

Baca Juga :  Tugu Kujang Dirusak Saat Demo, Wali Kota Bogor: Jangan Lukai Kota Sendiri

Di Aceh, kerusakan ringan–sedang mencapai 32.652 hektare, di Sumatra Utara 32.964 hektare, dan di Sumatra Barat 3.624 hektare.

Khusus di Kabupaten Aceh Utara, luas lahan dengan kerusakan ringan dan sedang tercatat 8.237 hektare, terdiri atas 5.950 hektare rusak ringan dan 2.287 hektare rusak sedang. Wilayah-wilayah ini menjadi prioritas dalam tahap awal pemulihan.

“Kami mulai dari yang ringan dan sedang, baru terakhir yang berat. Sekitar 90 sampai 95 persen akan kami selesaikan lebih dulu,” kata Amran dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026).

Proses rehabilitasi dijadwalkan berlangsung sepanjang Januari hingga Februari 2026. Dalam tahap ini, Kementan menargetkan pemulihan lahan seluas 13.708 hektare di tiga provinsi. Rinciannya, Aceh 6.530 hektare, Sumatra Utara 6.593 hektare, dan Sumatra Barat 3.624 hektare.

Di Aceh, pelaksanaan rehabilitasi dilakukan melalui skema padat karya. Skema ini dirancang agar petani yang sawahnya terdampak tetap memperoleh penghasilan selama proses pemulihan berlangsung.

Baca Juga :  Dispora Kabupaten Bogor Gelontorkan Rp18 Miliar untuk Pembangunan GOM Rancabungur

“Rakyat yang bekerja, yang punya sawah bekerja. Upahnya dibayar oleh pusat. Jadi mereka mengerjakan lahannya sendiri,” tuturnya.

Dari sisi anggaran, Kementan telah menyiapkan dana rehabilitasi lahan sawah nasional seluas 10.000 hektare dengan nilai Rp148,53 miliar. Anggaran tersebut akan direvisi dan dialihkan untuk menangani lahan dengan tingkat kerusakan sedang di tiga provinsi terdampak.

Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan dana sebesar Rp310 miliar untuk kegiatan optimasi lahan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dana ini digunakan untuk memulihkan sawah yang mengalami kerusakan ringan.

Kegiatan rehabilitasi meliputi perapihan pematang, normalisasi saluran irigasi tersier, primer, dan sekunder, perbaikan bangunan irigasi seperti pintu air, serta pengolahan kembali lahan agar siap ditanami.

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel