TIMETODAY.ID, JAKARTA — Klaim bahwa penggunaan AirPods dan earbud Bluetooth dapat memicu kanker otak kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Isu ini mencuat seiring meningkatnya penggunaan perangkat nirkabel yang dikenakan dalam jarak sangat dekat dengan otak, sehingga memunculkan kekhawatiran publik terkait paparan radiasi.
Namun, seorang ahli bedah saraf menegaskan bahwa kekhawatiran tersebut tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Dr Jay Jagannathan, neurosurgeon bersertifikat dengan spesialisasi bedah otak dan tulang belakang, menyebut isu ini kerap menjadi pertanyaan yang ia terima dari masyarakat.
Dr Jagannathan mengaku memahami kegelisahan tersebut, mengingat ia menangani pasien kanker otak sepanjang kariernya. Meski demikian, ia menilai klaim viral di media sosial sering kali mengabaikan prinsip dasar dalam ilmu kesehatan.
“Saya menangani pasien kanker otak sepanjang karier saya, jadi saya paham kenapa isu soal ‘radiasi dekat otak’ membuat orang panik. Tapi kalau kita benar-benar melihat sainsnya, ada tiga hal yang jauh lebih penting daripada klaim viral: dosis, jenis paparan, dan konteks dunia nyata,” ujarnya dikutip dari Hindustan Times, Selasa (5/1/2016).
Menurut Dr Jagannathan, AirPods dan perangkat Bluetooth lainnya memanfaatkan gelombang radio non-ionisasi, yaitu jenis radiasi yang tidak memiliki energi cukup untuk merusak DNA, berbeda dengan sinar-X atau bentuk radiasi pengion lainnya yang memang diketahui dapat meningkatkan risiko kanker.
“Bluetooth seperti AirPods menggunakan sinyal radiofrekuensi non-ionisasi pada tingkat yang jauh lebih rendah dibandingkan paparan ponsel yang telah dipelajari selama puluhan tahun,” jelasnya.
Ia menambahkan, banyak narasi di internet menyederhanakan persoalan secara keliru, seolah-olah AirPods bekerja layaknya microwave mini yang ditempatkan di dekat otak. Menurutnya, pemahaman tersebut mencampuradukkan berbagai jenis radiasi dan dampaknya. Dalam praktiknya, paparan radiasi dari AirPods justru jauh lebih kecil dibandingkan dari ponsel.
“Perkiraan paparan AirPods berkisar 10 hingga 400 kali lebih rendah dibandingkan ponsel. Jika memang ada sinyal kuat yang berbahaya, kita seharusnya sudah lebih dulu melihat dampaknya dari penggunaan ponsel,” ujarnya.
Studi Tikus yang Kerap Dijadikan Rujukan
Dr Jagannathan juga meluruskan pemahaman publik terkait sebuah studi tikus yang sering dikutip untuk mengaitkan radiasi radiofrekuensi (RF) dengan kanker. Penelitian tersebut diterbitkan pada 2018 oleh National Toxicology Program di Amerika Serikat.
Dalam studi itu, tikus dipaparkan radiasi RF dalam intensitas yang sangat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan adanya sedikit peningkatan kasus tumor jantung langka pada tikus jantan, sementara tikus betina tidak menunjukkan pola serupa.
Meski demikian, Dr Jagannathan menegaskan bahwa temuan dari penelitian hewan tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi manusia.
“Kondisi paparan sangat berbeda dari kehidupan nyata, hasil pada hewan tidak otomatis berlaku pada manusia, dan temuan itu tidak menunjukkan kesimpulan yang jelas dan konsisten,” katanya.
Dengan demikian, ia menilai kekhawatiran soal AirPods dan kanker otak lebih banyak dipicu oleh misinformasi, bukan oleh temuan ilmiah yang solid.***
Editor : Syafira
Sumber : CNBCIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































