Kisah Getir Janda Empat Anak di Bogor, Mimpi Pulang ke Rumah Layak Huni

janda empat anak
Irma Sriwidia Astuti (34) menunjuk atap rumahnya yang rusak parah di Kampung Setu, Desa Jayaraharja, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Selasa (16/12/2025). Rumah tersebut mengalami kerusakan sejak gempa empat tahun lalu dengan genteng berjatuhan dan atap yang lapuk, sehingga Irma terpaksa mengontrak di tempat lain bersama keempat anaknya. Foto : NARASITODAY.COM/ANDRES

TIMETODAY.ID, BOGOR – Sore itu, Irma Sriwidia Astuti (34) duduk di teras rumah kontrakannya di Hunian Tetap (Huntap)  Kampung Gunung Koneng. Matanya sesekali menatap jauh, seolah membayangkan rumahnya yang kini terbengkalai di Kampung Setu, Desa Jayaraharja, tak jauh dari tempat ia mengontrak.

Empat tahun sudah janda empat anak itu meninggalkan kediamannya sendiri. Bukan karena ingin, tapi terpaksa. Rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya itu kini nyaris roboh, penuh retak di hampir seluruh dinding. Atapnya lapuk, genteng berjatuhan setiap kali hujan mengguyur.

“Awalnya waktu ada gempa, jadi pada retak. Karena hujan terus, gentengnya pada jatuh,” tutur Irma lirih, Selasa (16/12/2025).

Advertisement
Baca Juga :  Pemkab Bogor Siapkan Anggaran Percepatan Perbaikan Rutilahu

Gempa yang melanda empat tahun silam memang menyisakan luka mendalam. Tidak hanya pada bangunan fisik, tapi juga pada kehidupan Irma yang sudah cukup berat. Sejak berpisah dengan suaminya, perempuan itu harus berjuang sendirian membesarkan keempat anaknya tanpa penghasilan tetap. Kebutuhan sehari-hari hanya bisa terpenuhi berkat bantuan orang tua dan saudara.

Selama hampir empat tahun, Irma bertahan tinggal di rumah yang retak itu dengan perasaan was-was. Setiap malam, ketakutan selalu menghantui. Bagaimana jika rumah benar-benar ambruk? Bagaimana dengan anak-anaknya yang masih kecil?

“Selalu was-was, takut ambruk, makanya saya memilih ngontrak,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Kini, setiap bulan Irma harus menyisihkan Rp250 ribu untuk sewa rumah kontrakan. Nominal yang tidak kecil bagi seorang ibu tanpa pekerjaan tetap. Namun, pilihan itu lebih baik daripada terus berada dalam ancaman bahaya.

Baca Juga :  Warganet Berduka, Tari Si Gajah Sumatera Populer di Medsos Telah Tiada

Harapan Irma sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin rumahnya yang dulu hangat itu bisa kembali layak huni. Agar ia dan anak-anaknya bisa pulang ke tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan paling aman bagi mereka.

“Saya berharap ada bantuan dari pemerintah. Saya nggak punya suami dan nggak kerja,” katanya.

Di balik kesederhanaannya, Irma menyimpan harapan besar. Harapan akan uluran tangan yang bisa mengubah nasib rumahnya, dan nasib keluarga kecilnya.

Editor : B. Supriyadi

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel