TIMETODAY.ID, JAKARTA — Seorang pria di Michigan, Amerika Serikat, meninggal dunia setelah menerima donor ginjal. Yang mengejutkan, kematiannya bukan karena penyakit kronis, melainkan karena rabies—virus mematikan yang ternyata dibawa oleh pendonor organ tersebut.
Kasus ini menjadi salah satu dari empat kasus penularan rabies melalui transplantasi organ dalam hampir 50 tahun terakhir.
Awal mula kasus ini bermula pada pendonor, seorang pria asal Idaho, yang tercakar seekor sigung pada bagian tulang kakinya pada Oktober 2024. Sekitar lima minggu kemudian, gejala mulai muncul: halusinasi, kesulitan berjalan, dan leher kaku.
“Dua hari setelah gejalanya muncul, ia pingsan karena apa yang diduga sebagai serangan jantung,” kata CDC, dikutip dari The Straits Times.
Pria tersebut dilarikan ke rumah sakit, namun meninggal dunia dan organnya didonorkan, termasuk ginjal kirinya. Ginjal itu kemudian diterima oleh seorang pria di Michigan. Lima minggu setelah transplantasi, penerima mulai mengalami tremor, lemas, kebingungan, dan inkontinensia urine.
“Ia dirawat di rumah sakit seminggu kemudian dengan gejala-gejala, seperti demam, kesulitan menelan, dan takut air, yang merupakan tanda-tanda awal rabies,” menurut laporan CDC.
Seminggu setelah dirawat, pasien meninggal dunia. Dokter yang merawat mencatat bahwa gejalanya konsisten dengan rabies. Operasi transplantasi ini dilakukan di rumah sakit di Ohio yang tidak disebutkan namanya.
“Para dokter meninjau catatan tentang donor ginjal dan mengetahui bahwa keluarga pria Idaho tersebut telah mengungkapkan cakaran sigung pada dokter ketika organnya didonorkan,” lanjut laporan CDC.
Diyakini bahwa sigung yang mencakar donor menularkan rabies dari kelelawar. Pengujian kemudian menunjukkan bahwa virus rabies pada donor dan penerima organ sama dengan jenis yang ditemukan pada kelelawar.
Sebelum transplantasi, biopsi dilakukan pada ginjal donor. Setelah penerima organ dinyatakan positif rabies, biopsi itu ditinjau kembali. Jaringan ginjal yang belum ditransplantasi ternyata juga positif rabies.
Selain ginjal, kornea pendonor juga disumbangkan kepada tiga orang. “Cangkokan mata ketiga pasien telah diangkat, dan satu orang dinyatakan positif rabies,” ujar para dokter. Dari ketiga pasien itu, tidak ada yang menunjukkan gejala rabies, tetapi mereka sedang menjalani perawatan pencegahan.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam prosedur transplantasi, terutama dalam mendeteksi penyakit langka yang dapat ditularkan melalui organ donor.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































