Trump Berpotensi Bertemu Putin Pekan Depan di Tengah Ancaman Sanksi Baru

Trump
Foto: Donald Trump (kiri) dan Vladimir Putin (kanan) (REUTERS/Kevin Lamarque)

TIMETODAY.ID, WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut berpeluang menggelar pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin secepatnya pekan depan.

Informasi ini disampaikan seorang pejabat Gedung Putih pada Rabu (6/8/2025), di tengah rencana Washington memberlakukan sanksi sekunder terhadap negara-negara yang masih menjalankan hubungan dagang dengan Moskow — termasuk kemungkinan menargetkan China.

Jika pertemuan ini terwujud, maka ini akan menjadi kontak langsung pertama antara Presiden AS dan Rusia sejak Joe Biden bertemu Putin di Jenewa pada Juni 2021, delapan bulan sebelum invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina dimulai.

Advertisement

Menurut laporan The New York Times, Trump telah menyampaikan kepada para pemimpin Eropa melalui sambungan telepon bahwa ia ingin bertemu Putin terlebih dahulu, sebelum menggelar pertemuan trilateral bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.

“Ada kemungkinan besar pertemuan itu akan terjadi dalam waktu dekat,” kata Trump kepada wartawan.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, turut membenarkan rencana tersebut.

“Pihak Rusia menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan Presiden Trump, dan Presiden terbuka untuk bertemu baik dengan Presiden Putin maupun Presiden Zelenskiy,” ujarnya.

Pernyataan ini muncul setelah pertemuan antara Putin dan utusan khusus AS, Steve Witkoff, yang diklaim Trump dalam unggahan di Truth Social sebagai “kemajuan besar”, meskipun ia menolak menyebutnya sebagai “terobosan”.

Baca Juga :  Ngeri! Pengendara Motor Tewas Seketika di Turunan Maut Jalan Tegar Beriman Cibinong

Dari pihak Moskow, seorang penasihat Kremlin menyebut pertemuan tersebut “berguna dan konstruktif.”

Sanksi dan Tekanan Diplomatik Menjelang Tenggat

Langkah diplomatik ini hadir hanya dua hari menjelang tenggat waktu ultimatum yang diberikan Trump kepada Rusia untuk menyepakati perdamaian, atau bersiap menghadapi sanksi tambahan dari AS. Trump dikabarkan mulai kehilangan kesabaran terhadap lambatnya progres menuju gencatan senjata.

Sebagai bentuk tekanan, Trump menyatakan akan mengenakan tarif tinggi pada negara-negara pembeli ekspor Rusia, termasuk minyak.

“Kita sudah melakukannya terhadap India. Kita mungkin akan melakukannya terhadap negara lain juga. Salah satunya bisa saja China,” ujar Trump.

Pada Rabu, Trump resmi menaikkan bea masuk terhadap beberapa produk impor dari India hingga 50% — tarif tertinggi yang pernah dijatuhkan terhadap negara mitra dagang AS. Langkah ini diambil menyusul keputusan India untuk tetap membeli minyak dari Rusia.

Langkah serupa terhadap China masih dalam tahap pertimbangan. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya telah memperingatkan bahwa pembelian minyak Rusia oleh Beijing dapat memicu tarif tinggi baru sesuai kebijakan yang digulirkan Kongres.

Respons Ukraina dan Sinyal dari Kremlin

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyambut positif tekanan internasional terhadap Moskow.

“Tekanan itu bekerja. Tapi yang paling penting adalah mereka tidak menipu kita dalam rincian – baik kita maupun AS,” ujar Zelenskiy dalam pidato malamnya.

Baca Juga :  Ratusan Jurnalis The Washington Post Diberhentikan, Fokus Redaksi Berubah

Sementara itu, penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menyatakan bahwa kedua pihak telah saling bertukar sinyal diplomatik terkait isu Ukraina. Ia menolak membeberkan detail sebelum utusan AS, Steve Witkoff, menyampaikan laporan langsung kepada Trump.

Pemerintah Jerman juga mengonfirmasi bahwa Trump telah menginformasikan perkembangan pembicaraan kepada para sekutu Eropa, termasuk Kanselir Olaf Scholz.

Pertimbangan Moratorium dan Sikap Putin

Di tengah pembicaraan damai yang sedang berlangsung, Kremlin dilaporkan mempertimbangkan moratorium serangan udara antara Rusia dan Ukraina — gagasan yang pertama kali disuarakan Presiden Belarus Alexander Lukashenko. Namun, langkah ini masih dianggap belum cukup oleh Ukraina dan AS, yang menuntut gencatan senjata total.

Sumber internal Kremlin mengatakan bahwa Presiden Putin tidak menunjukkan tanda akan tunduk pada ultimatum sanksi dari Trump. Ia disebut tetap percaya bahwa Rusia berada di posisi unggul secara militer dan tidak akan mengorbankan tujuan strategis demi memperbaiki hubungan dengan Washington.

Meski begitu, seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa sanksi sekunder akan tetap diberlakukan pada Jumat terhadap negara-negara yang masih menjalin bisnis aktif dengan Rusia.***

Editor : Syafira

Sumber : Reuters.com, nytimes.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel