TIMETODAY.ID, JAKARTA — Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif kompulsif bukan hanya bisa dialami orang dewasa, tapi juga anak-anak. Kondisi ini ditandai oleh pikiran berulang yang tidak diinginkan (obsesi) serta dorongan kuat untuk melakukan tindakan tertentu secara berulang (kompulsif) guna meredakan kecemasan.
Menurut para ahli kesehatan mental, dua perilaku utama pada anak dengan OCD—obsesif dan kompulsif—sering kali muncul bersamaan dan sulit dipisahkan.
Anak mungkin merasa cemas berlebihan terhadap hal-hal kecil yang tidak masuk akal, seperti takut kotor, takut sesuatu buruk akan terjadi, atau merasa harus melakukan sesuatu “dengan cara tertentu” agar tenang.
Penyebab OCD pada Anak
Penyebab pasti OCD hingga kini belum sepenuhnya diketahui. Namun, penelitian menunjukkan gangguan ini berkaitan dengan ketidakseimbangan zat kimia otak bernama serotonin, yang berperan penting dalam mengatur suasana hati dan perilaku.
Faktor genetik juga bisa berperan — OCD cenderung muncul dalam keluarga, meskipun bisa pula terjadi tanpa riwayat serupa. Dalam kasus tertentu, infeksi streptokokus bahkan dapat memicu atau memperparah gejala OCD pada anak.
Gejala OCD pada Anak
Setiap anak bisa menunjukkan gejala yang berbeda, namun beberapa tanda umum yang perlu diwaspadai antara lain:
- Terlalu takut terhadap kuman atau kotoran
- Sering meragukan sesuatu, misalnya apakah pintu sudah dikunci
- Memiliki pikiran menakutkan atau mengganggu, seperti takut menyakiti diri sendiri atau orang lain
- Terobsesi dengan urutan, simetri, atau ketepatan
- Menghabiskan waktu lama untuk menghitung, memikirkan angka, atau mengingat detail kecil
- Merasa harus melakukan sesuatu dengan “cara yang benar” agar tidak terjadi hal buruk
“Anak-anak dengan OCD sering kali tahu bahwa apa yang mereka pikirkan tidak masuk akal, tapi mereka merasa tidak bisa berhenti,” jelas salah satu psikolog anak yang menangani kasus OCD, dikutip dari berbagai sumber.
Perilaku Kompulsif yang Perlu Diwaspadai
Untuk menenangkan rasa cemasnya, anak akan melakukan berbagai ritual berulang seperti:
- Mencuci tangan berkali-kali, bahkan hingga ratusan kali sehari
- Memeriksa sesuatu berulang kali (pintu, lampu, tas sekolah)
- Mengatur benda dalam urutan tertentu
- Mengulangi kata, angka, atau suara tertentu
- Mengajukan pertanyaan yang sama terus-menerus
Tindakan ini biasanya memberikan rasa lega sesaat, namun dalam jangka panjang justru mengganggu kehidupan sehari-hari, termasuk kegiatan belajar dan sosialisasi anak.
Pentingnya Dukungan dan Penanganan Dini
OCD pada anak bisa diatasi dengan terapi perilaku kognitif (CBT), dukungan keluarga, serta dalam beberapa kasus melalui pengobatan dari psikiater anak.
Orang tua juga diimbau untuk tidak memarahi atau mengabaikan perilaku anak, melainkan membantu mereka memahami dan mengelola rasa cemasnya.
“Semakin cepat OCD dikenali dan ditangani, semakin besar peluang anak untuk tumbuh dengan sehat dan percaya diri,” ujar psikolog tersebut.
Gangguan OCD mungkin tak terlihat di permukaan, namun bagi anak yang mengalaminya, pikiran dan dorongan berulang bisa menjadi “penjara kecil” di dalam kepala mereka. Memahami dan mendukung mereka adalah langkah pertama menuju pemulihan.***
Editor : Syafira
Sumber : CNBCIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































