Polusi di Lahore Capai Titik Tertinggi, Warga Diminta Hindari Aktivitas Luar Ruangan

Lahore
Polusi di Lahore Capai Titik Tertinggi, Warga Diminta Hindari Aktivitas Luar Ruangan. (Foto: AP/K.M. Chaudary)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Selama tiga hari terakhir, Lahore, kota bersejarah di timur Pakistan, hidup dalam selubung kabut abu-abu yang tebal. Jalanan yang biasanya ramai kini tampak suram, dan langit seolah kehilangan warnanya. Di balik pemandangan muram itu, data menunjukkan kenyataan yang lebih mengkhawatirkan: Lahore kembali menjadi kota paling tercemar di dunia.

Menurut data terbaru, Indeks Kualitas Udara (AQI) di kota tersebut mencapai 412, jauh di atas ambang batas berbahaya bagi kesehatan manusia.

Di beberapa titik, kondisinya bahkan lebih parah. Laporan dari Dawn menyebut, wilayah Lower Mall mencatat AQI hingga 680, disusul Iqbal Town (577), Syed Maratib Ali Road (543), Shadman (507), Universitas Punjab (506), dan Shalimar (495).

Advertisement

Bagi warga Lahore, udara bersih kini menjadi kemewahan. Para ahli lingkungan menyerukan agar masyarakat menghindari aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak, terutama pada pagi dan sore hari saat konsentrasi polutan berada di puncak.

Baca Juga :  110.650 Kendaraan Tercatat Serbu Puncak Pada Malam Natal 2023

Mereka juga mengimbau warga memakai masker untuk melindungi diri dari partikel halus PM2.5, yang kadarnya disebut “beberapa kali lipat” melebihi batas aman global.

Polutan ini dapat memicu penyakit pernapasan dan kardiovaskular, terutama pada anak-anak dan lansia.

Di tingkat pemerintah, Provinsi Punjab kini dalam status siaga tinggi. Otoritas Manajemen Bencana Punjab (PDMA) mengeluarkan peringatan untuk seluruh distrik di bagian timur, termasuk Lahore, Gujranwala, Sheikhupura, Kasur, Nankana Sahib, Faisalabad, Multan, Bahawalpur, Rahim Yar Khan, dan Khanpur.

Direktur Jenderal PDMA, Irfan Ali Kathia, memperingatkan bahwa situasi ini kemungkinan akan memburuk.

“Intensitas kabut asap (smog) diperkirakan akan meningkat dari November hingga pertengahan Desember, berdasarkan prakiraan dari Departemen Meteorologi,” ujarnya.

Untuk meredam dampak kabut asap, PDMA telah menginstruksikan seluruh komisioner dan wakil komisioner memastikan langkah-langkah pengendalian berjalan ketat.

Pemerintah melarang pembakaran sisa tanaman, sampah, ban, plastik, dan karet aktivitas yang selama ini menjadi penyumbang utama polusi udara di kawasan tersebut.

Baca Juga :  Bangun Kemitraan Baru, Prabowo Ajak Pakistan Perkuat Persaudaraan Dua Negara

Langkah besar juga datang dari Menteri Senior Punjab, Marriyum Aurangzeb, yang memimpin operasi terpadu melawan smog.

“Sembilan departemen tengah melakukan operasi besar-besaran. Pasukan perlindungan lingkungan telah dikerahkan sepenuhnya, tungku bata diawasi dengan drone, dan laporan lapangan dipantau secara waktu nyata,” ungkapnya.

Tak hanya itu, pemerintah setempat kini memanfaatkan teknologi baru seperti meriam anti-smog dan alat pemantau kualitas udara. Sistem prakiraan AQI yang diterapkan untuk pertama kalinya di Punjab diharapkan dapat membantu intervensi dini sebelum tingkat polusi kembali melonjak tajam.

Namun, bagi warga Lahore, setiap tarikan napas tetap terasa berat. Di antara hiruk-pikuk kota dan kabut yang menebal, mereka kini menunggu satu hal sederhana — hembusan udara bersih yang semakin langka di langit kota tua itu.

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel