Hamas Isyaratkan Kesiapan Negosiasi, Sandera Israel Masuk Agenda Pertukaran

Israel
Ilustrasi yang menggambarkan keberadaan kelompok Hamas di Palestina. (foto: REUTERS/Ramadan Abed)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Harapan baru muncul di tengah konflik berkepanjangan Gaza–Israel. Pada Jumat malam (3/10/2025) waktu setempat, kelompok pejuang Palestina Hamas menyatakan persetujuan mereka terhadap proposal gencatan senjata yang diajukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan kesediaannya untuk membebaskan seluruh sandera Israel—baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

“Persetujuan untuk membebaskan semua tawanan pendudukan, baik yang masih hidup maupun jenazah yang telah meninggal, sesuai dengan kerangka pertukaran yang termasuk dalam proposal Presiden Trump,” demikian bunyi keterangan resmi Hamas.

Advertisement
Baca Juga :  Ketua OKK KNPI Kota Bogor Apresiasi Kapolresta Bogor Kota atas Penghargaan Program "SKCK Goes To School"

Langkah ini bukan hanya menandai titik balik penting, tetapi juga membuka peluang bagi dimulainya proses negosiasi yang lebih intensif. Hamas menyebut siap terlibat dalam pembicaraan yang dimediasi pihak ketiga. Mereka juga menyampaikan apresiasi terhadap

“upaya Arab, Islam, dan internasional, serta upaya Presiden AS Donald Trump.”

Selain soal pembebasan sandera, Hamas memberi sinyal ingin membicarakan rincian lain, termasuk wacana penyerahan administrasi Jalur Gaza kepada badan Palestina yang terdiri dari otokrat independen.

Trump sebelumnya telah menetapkan batas waktu hingga Minggu (5/10) bagi Hamas untuk merespons proposalnya. Dokumen 20 poin itu diluncurkan di Gedung Putih pada 29 September, bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Baca Juga :  Iran Tangkap Dua Agen Mossad, Perang Bayangan dengan Israel Makin Memanas

Israel sendiri telah menyetujui isi proposal yang mencakup gencatan senjata segera, pembebasan sandera, pelucutan senjata Hamas, jaminan bahwa warga Gaza tidak akan dipaksa meninggalkan wilayahnya, serta pembentukan “panel perdamaian” yang turut melibatkan Sir Tony Blair.

Keputusan Hamas untuk menerima kerangka utama proposal tersebut kini memberi angin segar bagi diplomasi internasional. Namun, implementasi rincian kesepakatan yang rumit ini masih harus menempuh jalan panjang lewat meja perundingan.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel