TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di tengah teriknya musim panas yang mendorong orang-orang mandi dan berenang di sungai maupun kolam, bayang-bayang ancaman tak kasat mata justru mengintai warga Kerala, India.
Otoritas kesehatan di negara bagian itu kini siaga setelah terjadi lonjakan kasus Primary Amoebic Meningoencephalitis (PAM), infeksi otak langka namun mematikan, yang disebabkan oleh Naegleria fowleri—dikenal luas sebagai “amoeba pemakan otak”.
Menurut laporan Reuters, sepanjang 2025 Kerala mencatat 69 kasus PAM dengan 19 kematian, sebagian besar terjadi hanya dalam beberapa pekan terakhir. Angka ini memicu kekhawatiran publik, karena tingkat fatalitas penyakit tersebut sangat tinggi.
Menteri Kesehatan Kerala, Veena George, menyebut lonjakan kasus ini sebagai tantangan serius bagi sistem kesehatan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pola penyebaran tahun ini berbeda dibanding sebelumnya.
“Tidak seperti tahun lalu, saat ini kami tidak menemukan kluster yang terkait dengan satu sumber air. Kasus yang muncul bersifat tunggal dan terpisah, dan hal ini memperumit investigasi epidemiologi kami,” ujarnya, dikutip dari NDTV.
Yang mengejutkan, rentang usia pasien sangat lebar: dari bayi berusia tiga bulan hingga lansia 91 tahun. Artinya, infeksi ini tidak hanya menyerang kelompok tertentu, melainkan siapa saja yang melakukan kontak dengan air terkontaminasi.
Dalam dokumen resmi pemerintah Kerala, disebutkan bahwa PAM menyerang sistem saraf pusat.
“Infeksi ini merusak jaringan otak, menyebabkan pembengkakan otak parah, dan pada sebagian besar kasus berakhir dengan kematian. PAM termasuk langka dan biasanya terjadi pada anak-anak, remaja, serta dewasa muda yang sebelumnya sehat,” tulis laporan tersebut.
Air tawar hangat yang tergenang menjadi media ideal bagi berkembangnya Naegleria fowleri. Amoeba masuk melalui mukosa hidung saat seseorang berenang atau menyelam, lalu bergerak menuju otak. Menariknya, konsumsi air yang terkontaminasi tidak menimbulkan gejala, sehingga jalur penularan sangat spesifik.
Dokumen pemerintah juga menyoroti peran perubahan iklim.
“Perubahan iklim yang menyebabkan suhu air naik, ditambah cuaca panas yang mendorong lebih banyak orang melakukan aktivitas rekreasi di air, kemungkinan besar akan meningkatkan kontak dengan patogen ini,” jelas laporan tersebut.
Meski menakutkan, infeksi ini tidak menular dari orang ke orang. Namun, dengan angka kematian yang tinggi, setiap kasus baru meninggalkan ketegangan di masyarakat.
Bagi Kerala, ancaman amoeba pemakan otak kini bukan lagi cerita langka di jurnal medis, melainkan kenyataan sehari-hari yang harus ditangani dengan kewaspadaan ekstra.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































