TIMETODAY.ID, JAKARTA — Penyakit akibat jarang makan nasi bisa muncul ketika tubuh tidak memperoleh cukup asupan karbohidrat sebagai sumber energi utama. Meski banyak orang mulai mengurangi nasi demi alasan diet atau gaya hidup sehat, keputusan tersebut perlu disertai perencanaan gizi yang tepat agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan.
Bagi masyarakat Indonesia, nasi bukan sekadar makanan pokok, tetapi juga penyumbang energi terbesar dalam aktivitas sehari-hari. Namun, tren diet rendah karbohidrat membuat sebagian orang memilih untuk membatasi bahkan menghindari nasi tanpa menggantinya dengan sumber karbohidrat lain yang setara nilai gizinya.
Padahal, karbohidrat berperan penting dalam menjaga fungsi otak, otot, dan berbagai sistem tubuh. Jika asupan ini berkurang drastis, kadar glukosa dalam darah dapat menurun dan memicu berbagai masalah kesehatan.
Dampak Kesehatan akibat Kekurangan Karbohidrat
Berikut beberapa kondisi yang dapat terjadi jika tubuh kekurangan asupan nasi atau sumber karbohidrat lain dalam jangka waktu tertentu:
1. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah turun di bawah normal. Kondisi ini bisa menyebabkan tubuh terasa lemas, pusing, gemetar, berkeringat dingin, hingga kehilangan kesadaran. Otak yang kekurangan glukosa tidak dapat bekerja secara optimal sehingga memicu berbagai gejala tersebut.
2. Ketoasidosis
Saat asupan karbohidrat sangat minim, tubuh akan membakar lemak sebagai sumber energi utama. Proses ini menghasilkan zat keton. Jika kadar keton berlebihan, kondisi berbahaya yang disebut ketoasidosis bisa terjadi, terutama pada penderita diabetes atau orang yang menjalani diet ketat tanpa pengawasan medis.
3. Malnutrisi Energi-Protein (KEP)
Mengurangi nasi sering kali juga diikuti dengan penurunan total asupan makanan. Jika kebutuhan kalori harian tidak terpenuhi, risiko malnutrisi energi-protein meningkat. Gejalanya antara lain berat badan turun drastis, tubuh mudah lelah, daya tahan tubuh melemah, dan lebih rentan terhadap infeksi.
4. Anemia Defisiensi Zat Besi
Orang yang membatasi nasi kerap kali juga mengurangi porsi lauk dan sayuran. Jika asupan zat besi tidak tercukupi, tubuh akan kesulitan memproduksi sel darah merah, sehingga memicu anemia. Tanda-tandanya meliputi wajah pucat, mudah lelah, dan sering pusing.
5. Stunting pada Anak
Pada anak-anak, kekurangan sumber energi seperti nasi dapat berdampak serius. Asupan energi yang tidak memadai dalam jangka panjang berisiko menghambat pertumbuhan tinggi badan, perkembangan otak, serta kemampuan belajar.
6. Infeksi Berulang
Kurangnya energi dapat melemahkan sistem imun. Akibatnya, tubuh lebih mudah terserang penyakit, seperti flu berulang, infeksi saluran pernapasan, maupun infeksi kulit.
7. Gangguan Fungsi Otak
Otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Jika kadar gula darah terus-menerus rendah, risiko gangguan fungsi otak, termasuk ensefalopati hipoglikemik, dapat meningkat. Kondisi ini dapat menimbulkan sulit konsentrasi, kebingungan, kejang, hingga penurunan kesadaran, terutama pada anak-anak dan lansia.
Selain itu, kekurangan karbohidrat dalam jangka panjang juga dapat mengganggu keseimbangan metabolisme, seperti memicu tekanan darah rendah kronis dan gangguan hormon.
Cara Mencegah Risiko Kesehatan
Jarang makan nasi sebenarnya tidak selalu berbahaya, selama kebutuhan karbohidrat tetap terpenuhi dari sumber lain. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
-
Mengganti nasi dengan karbohidrat kompleks seperti kentang, ubi, singkong, jagung, oatmeal, atau quinoa.
-
Mengonsumsi protein, sayur, dan buah secara seimbang agar kebutuhan vitamin dan mineral terpenuhi.
-
Menghindari diet ekstrem tanpa perencanaan gizi yang jelas.
-
Memperhatikan tanda-tanda tubuh kekurangan energi, seperti mudah lelah, sulit fokus, berat badan turun drastis, atau sering sakit.
Jika muncul keluhan setelah mengubah pola makan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Pada dasarnya, kunci menjaga kesehatan bukan terletak pada menghindari nasi semata, melainkan memastikan pola makan tetap seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh.***
Editor : Syafira
Sumber : alodokter.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































