
TIMETODAY.ID, SEOUL — Ratusan pekerja asal Korea Selatan dipulangkan dengan cerita yang mengguncang nurani. Mereka ditahan selama sepekan oleh otoritas imigrasi Amerika Serikat (ICE) dalam penggerebekan pabrik Hyundai di Bryan County, Georgia. Dari ruang-ruang sempit yang disebut tak layak huni hingga borgol rantai di pergelangan tangan dan kaki, kesaksian para pekerja itu kini menggiring Seoul untuk menuntut jawaban.
Juru bicara Kantor Kepresidenan Korsel, Kang Yu Jung, menegaskan pemerintah sedang menyelidiki kasus ini secara menyeluruh.
“Saya memahami bahwa pemerintah sedang melakukan peninjauan yang lebih menyeluruh terhadap perusahaan-perusahaan tersebut untuk mengetahui apakah terjadi pelanggaran hak asasi manusia (selama operasi imigrasi),” kata Kang dalam jumpa pers, Senin (15/9/2025), dikutip Yonhap.
Kementerian Luar Negeri Korsel juga ikut turun tangan, meneliti bagaimana tuntutan resmi Seoul ditanggapi oleh Washington.
“Dan perusahaan-perusahaan juga sedang melakukan peninjauan sendiri untuk memeriksa apakah ada langkah-langkah yang tidak memadai, baik dari pihak Korea maupun AS,” ujarnya.
Sebanyak 316 warga Korsel tiba di tanah air pada Jumat (12/9/2025) setelah seminggu ditahan di AS. Media setempat menggambarkan kondisi fasilitas penahanan sangat buruk: ruang sempit, kasur berjamur, suhu ruangan dingin, dan akses kebersihan terbatas.
Para pekerja bahkan mengaku diborgol dengan rantai di pinggang, kaki, dan pergelangan tangan, serta diperlakukan kasar oleh petugas. Seoul menegaskan akan terus mengawal kasus ini.
“Beberapa permohonan kami telah diterima, dan ada perbaikan. Namun, kami akan terus menindaklanjuti jika masih ada masalah atau ketidaknyamanan bagi warga kami,” tutur Kang.
Hyundai dan LG, dua perusahaan raksasa asal Korsel yang berinvestasi di Georgia, kini menggelar investigasi internal.
Mereka tengah mengumpulkan laporan tentang dugaan diskriminasi, perlakuan buruk, serta pelanggaran HAM terhadap para pekerja. Hasilnya akan segera diserahkan kepada Kementerian Luar Negeri Korsel sebagai bahan diplomasi lanjutan.
Kasus ini tak hanya menguji hubungan diplomatik Seoul–Washington, tetapi juga menyingkap sisi rapuh dari mimpi globalisasi industri ketika kepentingan ekonomi bertabrakan dengan martabat manusia.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































