
TIMETODAY.ID, KATHMANDU — Nepal kembali menjadi sorotan dunia setelah gelombang demonstrasi besar yang dimotori generasi muda berubah menjadi kerusuhan berdarah. Sedikitnya 20 orang tewas, puluhan gedung pemerintahan hangus terbakar, dan infrastruktur di sejumlah kota luluh lantak.
Namun, para pemimpin kelompok pemuda yang mengorganisasi aksi menegaskan bahwa gerakan mereka tetap berangkat dari semangat damai. Mereka membantah tuduhan terlibat dalam penyerangan maupun pembakaran.
“Protes damai hari ini, diselenggarakan oleh Generasi Z Nepal, dilakukan dengan visi yang jelas, menuntut akuntabilitas, transparansi, dan pemberantasan korupsi. Gerakan kami telah dan tetap berlangsung tanpa kekerasan dan berakar pada prinsip-prinsip keterlibatan sipil yang damai,” demikian bunyi pernyataan bersama berjudul Demo Gen Z: Klarifikasi tentang Gerakan Damai dan Vandalisme Properti Publik, dikutip Sputnik, Rabu (10/9/2025).
Para pemimpin pemuda itu menegaskan bahwa begitu situasi berubah anarkis, massa aksi telah meninggalkan lokasi.
“Gerakan kami tidak menerima kelompok oportunis atau anggota partai politik yang mencoba membajak atau memutarbalikkan tujuan. Kami tidak butuh mereka sebelumnya dan sekarang,” tegas pernyataan itu.
Dari Aksi Damai ke Api yang Membakar Parlemen
Awalnya, demonstrasi berlangsung damai. Ribuan anak muda turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan mereka sulitnya mencari pekerjaan, maraknya korupsi, dan frustrasi atas kebijakan pemerintah yang memblokir media sosial populer seperti X, Instagram, Facebook, YouTube, WhatsApp, dan Telegram.
Namun, situasi berbalik mencekam. Gedung parlemen, Mahkamah Agung, hingga rumah dinas pejabat tinggi dilaporkan dibakar massa. Surat kabar The Kathmandu Post menulis, para demonstran bahkan mencegah mobil pemadam kebakaran keluar dari markasnya.
Kediaman Perdana Menteri KP Sharma Oli diserbu, sejumlah menteri dievakuasi. Di jalanan, bentrokan meletus, merenggut nyawa setidaknya 21 orang.
Militer Diminta Turun Tangan
Dalam pernyataannya, kelompok pemuda meminta Angkatan Bersenjata Nepal untuk memastikan keamanan, termasuk dengan memberlakukan jam malam di wilayah rawan. Mereka berharap langkah ini bisa mencegah kerusakan lebih lanjut.
Pemerintah Nepal akhirnya mencabut pemblokiran media sosial sehari setelah tragedi berdarah itu. Namun, luka sosial tetap menganga.
Bayangan Kerusuhan di Indonesia
Situasi di Nepal mengingatkan pada kerusuhan demonstrasi di Indonesia beberapa waktu lalu, ketika aksi protes mahasiswa ditunggangi kelompok oportunis hingga berujung pada perusakan fasilitas publik dan penjarahan rumah anggota DPR.
Kini, di Nepal, suara Gen Z yang menuntut transparansi dan perubahan justru terjebak dalam pusaran anarki.
Di tengah api dan puing bangunan yang terbakar, satu hal masih bergema: desakan anak muda agar pemerintah lebih mendengar, bukan sekadar mengekang.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































