TIMETODAY.ID, BANGKOK — Bangkok tengah berada di titik genting. Jumat (5/9/2025), parlemen Thailand dijadwalkan memilih perdana menteri baru, hanya sepekan setelah Mahkamah Konstitusi mencopot Paetongtarn Shinawatra dari jabatannya.
Keputusan pengadilan yang menuduh Paetongtarn melanggar etika karena berkomunikasi dengan mantan PM Kamboja Hun Sen di tengah konflik perbatasan, membuat kekuasaan Pheu Thai goyah. Partai besar yang selama dua dekade mendominasi politik Negeri Gajah Putih kini menghadapi ancaman serius kehilangan pengaruh.
Kepergian Thaksin di Tengah Krisis
Situasi kian dramatis ketika Thaksin Shinawatra—ayah Paetongtarn sekaligus figur paling berpengaruh dalam politik Thailand—meninggalkan negaranya, Kamis (4/9/2025) malam. Dengan jet pribadi, ia terbang menuju Dubai, Uni Emirat Arab, hanya beberapa hari sebelum pengadilan menjatuhkan putusan yang berpotensi memenjarakannya.
Dalam unggahan di media sosial X, Thaksin menyebut keberangkatannya untuk menjalani pemeriksaan medis, dan berjanji kembali pada 8 September. Namun, kepergian mendadaknya menambah kesan Pheu Thai sedang kehilangan arah.
Anutin di Garis Depan
Di sisi lain, lawan politik Pheu Thai justru kian percaya diri. Anutin Charnvirakul, pemimpin Partai Bhumjaithai, kini disebut-sebut sebagai kandidat terkuat perdana menteri. Partainya telah menggalang dukungan signifikan di parlemen dengan janji menggelar pemilu baru dalam empat bulan.
Koalisi Bhumjaithai kini menguasai 146 kursi. Jika ditambah dengan dukungan Partai Rakyat yang memiliki 143 kursi, Anutin bisa dengan mudah melewati ambang batas mayoritas—247 suara—untuk menjadi perdana menteri.
Upaya Pheu Thai yang Melemah
Pheu Thai tak tinggal diam. Setelah gagal membubarkan parlemen demi menggagalkan langkah Anutin, partai itu mengajukan mantan jaksa agung Chaikasem Nitisiri (77) sebagai calon alternatif. Pheu Thai berjanji segera menggelar pemilu jika Chaikasem terpilih.
Namun, peluang Chaikasem dinilai tipis. Sosoknya kurang dikenal luas di dunia politik, sementara partainya sendiri tengah terpuruk akibat krisis kepemimpinan dan absennya Thaksin.
Masa Depan Politik Thailand
Bagi Thailand, pemungutan suara hari ini bukan sekadar memilih perdana menteri baru. Hasilnya bisa menentukan arah politik negara itu: apakah tetap dikuasai pengaruh keluarga Shinawatra atau bergeser ke tangan kubu oposisi yang menjanjikan perubahan cepat.
Dengan semua mata kini tertuju ke Bangkok, satu hal jelas—politik Thailand sekali lagi menunjukkan betapa dinamis, penuh drama, sekaligus tak terduga.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































