Konflik Memanas, Kamboja Minta Dunia Kecam Dugaan Bom Klaster Thailand

Kamboja
Kamboja Minta Dunia Kecam Dugaan Bom Klaster Thailand. Foto: RTAF

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan bersenjata di perbatasan Kamboja–Thailand kembali memanas setelah Phnom Penh menuduh Bangkok menggunakan bom klaster dalam konflik yang telah berlangsung selama 10 hari terakhir. Tuduhan ini muncul di tengah tekanan Thailand agar Kamboja lebih dulu menyatakan dan mematuhi gencatan senjata.

Pemerintah Kamboja secara resmi meminta Konvensi tentang Amunisi Klaster (Convention on Cluster Munitions/CCM) untuk mengecam dugaan penggunaan bom klaster oleh militer Thailand, terutama di wilayah yang dihuni warga sipil. Kamboja menilai penggunaan senjata tersebut melanggar hukum humaniter internasional dan menimbulkan risiko besar bagi masyarakat.

Baca Juga :  Lolos Playoff, Timnas ML Women Indonesia Tantang Laos di Bangkok

Bom klaster dikenal sebagai senjata kontroversial karena menyebarkan banyak submunisi dalam satu serangan. Sebagian amunisi sering kali tidak meledak dan dapat memakan korban jauh setelah konflik berakhir, termasuk warga sipil dan anak-anak.

Advertisement

Di sisi lain, Thailand justru menegaskan bahwa Kamboja harus lebih dulu mengumumkan gencatan senjata. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, mengatakan gencatan senjata hanya dapat dilakukan apabila memenuhi syarat dan dapat dipercaya.

“Merupakan kewajiban Kamboja untuk memulai gencatan senjata karena merekalah yang melanggar wilayah Thailand,” ujarnya, dikutip dari Thai PBS, Kamis (18/12/2025).

Baca Juga :  Thailand Perpanjang Kontrak MotoGP hingga 2031, Dapat Pujian dari CEO Dorna

Selain isu gencatan senjata, Thailand juga mendesak Kamboja bekerja sama dalam pembersihan ranjau darat di kawasan perbatasan. Bangkok menuduh Phnom Penh memasang ranjau baru di wilayah sengketa, namun tuduhan tersebut dibantah oleh pemerintah Kamboja.

Meski Thailand bukan negara penandatangan Konvensi Amunisi Klaster, Kamboja tetap meminta presiden CCM dan komunitas internasional untuk mengecam dugaan penggunaan senjata tersebut.

Konflik bersenjata antara kedua negara sejauh ini dilaporkan telah menewaskan setidaknya 33 warga sipil dari kedua pihak. Thailand juga mencatat 19 prajurit tewas, termasuk dua korban tambahan yang dilaporkan pada Selasa lalu.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel