TIMETODAY.ID, JAKARTA — Dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, Minggu (17/8/2025) lalu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyelipkan sebuah pesan yang sarat makna.
Di hadapan siswa, guru, dan masyarakat yang mengikuti upacara secara langsung maupun melalui siaran YouTube Kemendikdasmen, ia mengajak generasi muda untuk melu handarbeni.
“Bangsa yang maju memiliki sumber daya manusia yang kuat, unggul, religius, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, berkepribadian utama, melu handarbeni, serta bertanggung jawab memajukan bangsa dan negara,” ucap Mu’ti dalam amanatnya.
Dari Panggung Upacara ke Kearifan Jawa
Sekilas, istilah melu handarbeni terdengar asing bagi telinga yang terbiasa dengan bahasa Indonesia baku. Namun, istilah ini bukan sekadar ungkapan, melainkan warisan kearifan Jawa yang mengandung filosofi mendalam.
Mengutip penjelasan Kemendikdasmen, melu handarbeni berarti ikut merasa memiliki. Dari rasa memiliki itulah lahir tanggung jawab untuk menjaga, merawat, sekaligus melestarikan sesuatu yang dianggap sebagai bagian dari diri sendiri.
Konsep ini dipopulerkan oleh Raden Mas Said, atau lebih dikenal sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegaran I, seorang tokoh penting dalam sejarah Mataram. Dalam ajaran yang disebut tridarma, ia menekankan tiga prinsip utama:
- Rumangsa melu handarbeni: merasa ikut memiliki.
- Wajib melu hangrungkebi: wajib ikut menjaga atau membela.
- Mulat sarira hangrasa wani: berani bercermin dan mengoreksi diri.
Tiga prinsip itu dahulu menjadi falsafah kepemimpinan yang menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif, baik bagi prajurit maupun rakyat.
Filosofi yang Tak Lekang Waktu
Lebih dari sekadar istilah Jawa kuno, melu handarbeni sejatinya beririsan dengan konsep modern civic responsibility atau tanggung jawab kewargaan. Dalam bahasa Inggris, maknanya dekat dengan sense of belonging—perasaan memiliki yang mendorong kepedulian terhadap hal-hal di sekitarnya.
Bagi Abdul Mu’ti, pesan ini bukan hanya retorika di atas podium, melainkan ajakan untuk menumbuhkan rasa keterikatan generasi muda pada bangsanya. Dengan melu handarbeni, setiap individu diajak untuk tidak hanya mengandalkan pemerintah atau segelintir orang, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa memajukan bangsa adalah tanggung jawab bersama.
Dan mungkin, itulah cara paling sederhana untuk merawat kemerdekaan: menjadikan Indonesia bukan hanya sekadar “tanah air”, tapi juga sesuatu yang kita jaga, rawat, dan banggakan seolah milik kita sendiri.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































