TIMETODAY.ID — Asap pekat menyelimuti langit Yunani, sementara bara merah menjalar tanpa ampun dari desa ke desa. Suhu yang melonjak hingga lebih dari 42 derajat Celsius pada Minggu (27/7/2025), menjadi latar dramatis kebakaran hutan terburuk yang melanda negeri para dewa itu dalam beberapa tahun terakhir.
“Hari ini diperkirakan akan menjadi hari yang sulit dengan risiko kebakaran yang sangat tinggi, hampir di seluruh negeri,” kata Vasilis Vathrakoyannis, juru bicara Departemen Pemadam Kebakaran Yunani, dikutip Anadolu Agency.
Pulau demi pulau, desa demi desa, tak luput dari amukan si jago merah.
Di Pulau Kythira, api mulai berkobar sejak Sabtu siang, melalap desa Pitsinades dan meninggalkan jejak kehancuran yang menghitamkan sekitar 20 persen pulau tersebut. Pemerintah segera memerintahkan evakuasi warga, sementara petugas pemadam kebakaran bekerja siang-malam dalam suhu ekstrem.
Langit Yunani tak lagi biru, melainkan dipenuhi kabut asap dan suara deru helikopter serta pesawat pengebom air. Satu helikopter dan dua pesawat dikerahkan untuk mengendalikan api yang bergerak liar di bawah hembusan angin kencang.
Namun bukan hanya Kythira yang terbakar.
Di Pulau Evia, api yang muncul di dekat wilayah Pissona tak mampu dikendalikan. Enam petugas pemadam harus dilarikan ke rumah sakit karena luka bakar dan paparan asap. Beberapa desa mengalami pemadaman listrik, menambah kepanikan warga yang sudah bersiap mengungsi.
Wilayah Polithea di Messinia juga tak luput. Api yang meluas pada Sabtu sore menyebabkan kerusakan besar, membakar rumah-rumah dan menghancurkan lahan pertanian warga.
Sementara itu, di kawasan Attica, yang merupakan wilayah ibu kota Athena, kobaran api menyapu kawasan Afidnes dan terus merembet ke Drosopigi, Kryoneri, hingga Agios Stefanos.
Penduduk harus meninggalkan rumah mereka di tengah ketidakpastian—menyaksikan dari kejauhan bagaimana kampung halaman berubah menjadi abu.
Bulan lalu, kebakaran juga melanda pulau Chios, di kawasan Aegean utara, menghancurkan lebih dari 4.700 hektare lahan. Fenomena ini bukan kejadian terisolasi, melainkan bagian dari pola krisis iklim yang semakin nyata.
Kondisi di Yunani ini turut menjadi perhatian dunia. Pemerintah Inggris bahkan mengeluarkan imbauan bagi warganya yang berwisata ke negara tersebut.
“Yunani dapat mengalami fenomena alam ekstrem seperti gempa bumi, kebakaran hutan, gelombang panas ekstrem, dan banjir bandang. Risiko kebakaran hutan sangat tinggi selama musim panas, dari April hingga Oktober,” tulis pernyataan resmi dari Kantor Luar Negeri Inggris.
Mereka juga menyarankan wisatawan membawa “grab bag” atau tas darurat yang berisi dokumen penting seperti paspor, ponsel, obat-obatan, hingga charger—sebuah pengingat bahwa liburan di musim panas kini tak lagi sekadar tentang pantai dan matahari.
Sementara dunia menyoroti kehancuran dari kejauhan, masyarakat Yunani hidup dalam ketidakpastian. Setiap embusan angin bisa menjadi awal kobaran baru, setiap percikan bisa berubah jadi neraka.
Musim panas di Yunani tak lagi hangat dan bersahabat. Ia kini membara.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































