
TIMETODAY.ID — Suasana mencekam kembali menyelimuti ibu kota Suriah, Damaskus, setelah serangan udara Israel pada Rabu (16/7) menghantam jantung pertahanan negeri tersebut. Tak hanya gedung Kementerian Pertahanan, pasukan pemerintah Suriah di wilayah selatan pun ikut jadi sasaran, menambah daftar panjang kekerasan yang menimpa negara yang sudah 13 tahun dilanda konflik berkepanjangan.
Serangan Israel juga menjangkau area di sekitar Istana Presiden Suriah di Damaskus. Sejumlah kendaraan lapis baja sarat persenjataan dan fasilitas penyimpanan senjata di Suriah selatan ikut luluh lantak. Kementerian Luar Negeri Suriah melaporkan, “beberapa warga sipil tak berdosa” turut menjadi korban jiwa dalam gempuran tersebut.
“Serangan terang-terangan ini, yang merupakan bagian dari kebijakan yang disengaja oleh entitas Israel untuk mengobarkan ketegangan, menyebarkan kekacauan, dan merusak keamanan dan stabilitas di Suriah, merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum humaniter internasional,” demikian kutipan pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Suriah.
Dalih Penyelamatan Komunitas Druze
Pertanyaan pun bergulir: mengapa Israel menggempur Damaskus? Dalam keterangan terpisah, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk melindungi komunitas Druze yang tinggal di Suriah selatan.
“Pasukan kami berusaha menyelamatkan saudara-saudara Druze kami dan melenyapkan geng-geng rezim,” tegas Netanyahu, menyinggung keterkaitan emosional dengan komunitas Druze yang juga bermukim di Israel dan Dataran Tinggi Golan yang masih dikuasai Israel.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga menulis di platform X pada Rabu sore bahwa serangan di Damaskus hanya permulaan. “Peringatan di Damaskus telah berakhir dan militer Israel akan terus beroperasi secara gencar di Suweida untuk menghancurkan pasukan yang menyerang Druze hingga mereka mundur sepenuhnya,” tulisnya.
Katz bahkan menambahkan, “pukulan menyakitkan telah dimulai,” sambil membagikan video serangan yang memperlihatkan seorang presenter TV bersembunyi di bawah meja saat rudal Israel menghantam Lapangan Umayyah di pusat kota Damaskus.
AS Turut Turun Tangan
Di tengah serangan udara dan asap hitam yang membubung di langit Damaskus, diplomasi internasional bergerak cepat. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan keprihatinannya.
“Kami telah menyepakati langkah-langkah spesifik yang akan mengakhiri situasi yang meresahkan dan mengerikan ini malam ini,” ujarnya optimistis di X pada Rabu malam.
Suriah pun membuka peluang dialog. Kementerian Luar Negeri Suriah menegaskan pihaknya “menyambut baik upaya yang dilakukan oleh AS dan pihak Arab untuk menyelesaikan krisis saat ini secara damai.” Namun, hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Israel mengenai kemungkinan gencatan senjata.
Benih Konflik dari Suweida
Akar ketegangan terbaru ini tak lepas dari konflik sektarian yang membara di Suweida, wilayah dengan populasi besar komunitas Druze. Dalam delapan bulan terakhir, bentrokan kian sering meletup. Titik panasnya meledak pada Mei lalu ketika baku tembak antara Druze, pasukan keamanan, dan milisi Islam menewaskan puluhan orang di Damaskus dan Suweida.
Situasi kian keruh pada Minggu (13/7). Milisi Druze dilaporkan mengepung kawasan suku Badui di Kota Suweida. Lebih dari 300 nyawa melayang.
Bentrokan meluas, suku Badui menyerang balik desa-desa Druze di sekitar provinsi. Percikan awalnya dipicu insiden penculikan seorang pedagang Druze di jalan raya menuju Damaskus, hanya dua hari sebelumnya.
Pemerintah Suriah melalui Kementerian Dalam Negeri pun turun tangan. Mereka mengerahkan pasukan untuk menegakkan ketertiban.
“Eskalasi berbahaya ini terjadi karena ketidakhadiran lembaga resmi terkait,” tulis kementerian dalam pernyataan resminya.
Di tengah reruntuhan dan trauma, rakyat Suriah—baik Druze, Badui, maupun komunitas minoritas lain—masih harus berjibaku bertahan di negeri yang terus dirundung konflik, diwarnai pecahnya kepentingan politik regional dan global. Sementara itu, bagi Damaskus, langit kelabu dan suara dentuman rudal seakan masih belum benar-benar akan reda.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































