Ilmuwan Temukan 30 Ribu Enzim Pengurai Plastik dari Mikroba Laut

Sampah plastik
Ilustrasi sampah di laut (istock)

TIMETODAY.ID — Di balik birunya lautan, tersimpan ancaman senyap yang terus membesar: sampah plastik. Setiap tahun, jutaan ton plastik mengalir ke laut, merusak ekosistem, membunuh biota laut, dan secara perlahan menyusup ke tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik. Namun, harapan baru datang dari tempat yang tak terduga: mikroorganisme laut.

Sebuah studi internasional mengungkap bahwa mikroba di laut ternyata sedang berevolusi untuk memakan plastik. Temuan ini bukan hanya mengejutkan, tapi juga membuka kemungkinan solusi biologis terhadap salah satu krisis lingkungan terbesar saat ini.

Evolusi Diam-diam di Bawah Permukaan Laut

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal mBio ini menelusuri lebih dari 200 juta gen dari sampel DNA lingkungan laut dan tanah di berbagai belahan dunia. Hasilnya mengungkap lebih dari 30.000 enzim unik yang berpotensi mampu memecah plastik umum seperti PET (polietilena tereftalat) dan PE (polietilena).

Advertisement

“Ketika kami mencocokkan sampel dengan lokasi-lokasi yang diketahui memiliki tingkat pencemaran plastik tinggi, kami menemukan lebih banyak enzim pengurai plastik di tempat-tempat itu,” ujar Dr. Jan Zrimec, penulis utama studi dari Chalmers University of Technology, Swedia, seperti dikutip dari Dailymail.

Artinya, semakin tinggi tingkat pencemaran plastik di suatu wilayah, semakin tinggi pula keberadaan mikroba pemakan plastik. Para peneliti menyebut ini sebagai bentuk evolusi mikroba dalam merespons tekanan lingkungan buatan manusia.

Saat Mikroba Belajar Mengubah Limbah Jadi Makanan

Temuan ini membuktikan bahwa mikroba tidak hanya bertahan di lingkungan tercemar, tetapi juga mulai mengembangkan kemampuan mengubah plastik menjadi sumber karbon, alias makanan.

Baca Juga :  Ortu Wajib Tahu! Jam Tidur Anak yang Mendukung Perkembangan Optimal

“Sekitar 60 persen enzim pengurai plastik yang kami temukan berasal dari sampel laut,” jelas tim peneliti. Ini menunjukkan bahwa lautan, selain menjadi korban utama polusi, juga memiliki potensi besar menjadi bagian dari solusinya.

Mikroba pemakan plastik sebenarnya bukan hal baru. Pada 2016, ilmuwan Jepang menemukan Ideonella sakaiensis, bakteri yang bisa mencerna PET. Namun studi terbaru menunjukkan bahwa jumlah dan variasi mikroba pengurai plastik ternyata jauh lebih banyak dari yang dibayangkan sebelumnya.

Harapan yang Terselip Tantangan

Meski membawa harapan, pemanfaatan mikroba ini tidak lepas dari tantangan besar. Pertama, proses penguraian plastik oleh mikroba masih sangat lambat. Ideonella sakaiensis, misalnya, membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mengurai PET.

Kedua, tidak semua jenis plastik dapat dipecah. Enzim PETase yang dimiliki bakteri tersebut hanya efektif untuk PET, sementara jenis lain seperti PE masih sulit terurai. Penelitian di China pada 2021 memang menunjukkan potensi degradasi PE oleh bakteri laut, namun prosesnya masih membutuhkan waktu panjang dan pengembangan teknologi lebih lanjut.

Ketiga, pelepasan mikroba ke lingkungan secara langsung bisa menimbulkan risiko ekologis baru, seperti ketidakseimbangan ekosistem atau munculnya patogen yang tidak diinginkan. Karena itu, para ilmuwan kini lebih fokus pada pemanfaatan enzim mikroba dalam proses daur ulang industri yang terkontrol.

“Langkah selanjutnya adalah menguji kandidat enzim yang paling menjanjikan di laboratorium untuk menyelidiki secara saksama sifat-sifatnya dan tingkat degradasi plastik yang dapat dicapainya,” jelas Prof. Zelezniak, salah satu peneliti. “Dari sana, Anda dapat merekayasa komunitas mikroba dengan fungsi degradasi yang ditargetkan untuk jenis polimer tertentu.”

Baca Juga :  Heboh Pungutan di SMAN 2 Cileungsi, Orang Tua Wajib Bayar Makan Siang Guru!

Menjadi Solusi atau Sekadar Tambahan?

Terlepas dari potensi luar biasa mikroba ini, para ilmuwan tetap mengingatkan bahwa solusi utama tetap terletak pada perubahan perilaku manusia.

“Ini baru langkah awal. Mikroba ini belum bisa menggantikan tanggung jawab manusia dalam mengelola sampah plastik,” tegas tim peneliti.

Menurut data International Union for Conservation of Nature (IUCN), sekitar 14 juta ton plastik dibuang ke laut setiap tahun, menyebabkan kerusakan parah pada penyu, ikan, burung laut, hingga merembes ke tubuh manusia melalui mikroplastik.

Indonesia sendiri menjadi penyumbang sampah plastik laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, dengan 0,5 hingga 1,29 juta ton plastik masuk ke laut tiap tahunnya. Temuan mikroba pemakan plastik ini memang membawa secercah harapan, tapi tetap membutuhkan dukungan kebijakan, teknologi, dan kesadaran publik yang kuat.

Di tengah lautan yang penuh luka akibat polusi, mungkin kini sedang tumbuh sebuah solusi alami yang diam-diam bekerja. Namun, laju kerusakan masih jauh melampaui kecepatan pemulihan. Dan dalam perlombaan ini, manusia tetap harus jadi pelaku utama perubahan.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel