TIMETODAY.ID — Di tengah keheningan dini hari, saat sebagian besar warga Marmaris masih terlelap, bumi berguncang hebat. Tepat pukul 02.17 waktu setempat, Selasa (3/6), gempa bermagnitudo 5,8 mengguncang lepas pantai barat daya Turki, mengguncang wilayah Marmaris dan menjalar hingga ke Yunani dan Mesir.
Bagi sebagian orang, guncangan itu hanya mengusik tidur. Namun bagi keluarga Afranur Gunlu, guncangan itu mengubah segalanya.
Afranur, gadis 14 tahun yang tinggal di Fethiye—sekitar 100 kilometer dari pusat gempa—dilarikan ke rumah sakit akibat serangan panik hebat. Namun, takdir berkata lain. “Di Fethiye, seorang gadis berusia 14 tahun bernama Afranur Gunlu dibawa ke rumah sakit karena serangan panik tetapi, sayangnya, terlepas dari semua upaya, dia meninggal,” ujar Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, seperti dikutip kantor berita AFP.
Fethiye, kota pesisir yang biasanya ramai oleh wisatawan, pagi itu dipenuhi sirene ambulans dan langkah-langkah panik orang-orang yang menyelamatkan diri. Sekitar 70 orang dilaporkan mengalami luka-luka, sebagian karena melompat dari ketinggian saat mencoba melarikan diri.
Delapan di antaranya telah dipulangkan setelah mendapat perawatan singkat, namun 46 lainnya masih dirawat di rumah sakit. Ketakutan menyapu provinsi Mugla, tempat di mana gempa paling terasa.
Meski sejauh ini belum ada laporan kerusakan serius pada bangunan, trauma dan kepanikan membekas dalam. “Kami sedang tidur ketika tempat tidur bergoyang hebat. Kami langsung lari keluar tanpa sempat memakai sepatu,” kata seorang warga Fethiye kepada media lokal.
Guncangan tersebut juga terasa hingga ke luar negeri. Efthymios Lekkas, kepala otoritas perlindungan gempa nasional Yunani, mengonfirmasi bahwa gempa dirasakan di kepulauan Dodecanese. Di pulau Rhodes, para wisatawan terpaksa dievakuasi dari hotel, meski tidak ada laporan korban luka maupun jiwa dari wilayah Yunani.
AFAD, otoritas manajemen bencana Turki, terus memantau aktivitas pasca-gempa. Meskipun aktivitas seismik di kawasan ini bukan hal baru, peristiwa dini hari itu mengingatkan banyak orang bahwa dalam satu kejutan alam, hidup bisa berubah drastis.
Bagi keluarga Afranur, subuh itu bukan hanya soal gempa. Tapi kehilangan yang tak pernah mereka bayangkan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































