TIMETODAY.ID — Selama bertahun-tahun, asam urat atau gout sering kali dilekatkan pada stigma pola makan buruk—daging merah, jeroan, dan minuman manis bersoda menjadi kambing hitam. Namun, riset terbaru mengungkapkan bahwa narasi ini tidak sepenuhnya akurat.
Dalam sebuah studi berskala besar yang dipublikasikan di Nature Genetics dan dikutip oleh Science Alert, para peneliti berhasil mengumpulkan dan menganalisis data genetik dari lebih dari 2,6 juta orang di seluruh dunia, termasuk 120.295 pengidap asam urat. Temuan tersebut mengubah cara pandang terhadap penyakit radang sendi ini.
Mereka membandingkan susunan genetik antara penderita asam urat dengan mereka yang tidak memiliki riwayat penyakit tersebut. Hasilnya mengejutkan: faktor genetika ternyata memainkan peran yang jauh lebih besar dibandingkan gaya hidup atau pola makan dalam menentukan apakah seseorang akan mengidap asam urat.
“Asam urat atau gout adalah penyakit kronis yang memiliki dasar genetik dan bukan kesalahan penderitanya. Mitos bahwa asam urat disebabkan oleh gaya hidup atau pola makan perlu dipatahkan,” tegas Tony Merriman, epidemiolog dari Universitas Otago, Selandia Baru, yang terlibat dalam studi ini.
Lebih jauh, Merriman menambahkan bahwa stigma sosial yang melekat justru membuat banyak penderita enggan mencari pengobatan.
“Mitos yang tersebar luas ini menyebabkan rasa malu pada penderita asam urat, membuat sebagian orang lebih memilih menahan sakit dan tidak ke dokter untuk mendapatkan obat,” katanya.
Asam urat terjadi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat drastis dan membentuk kristal tajam seperti jarum di persendian. Ketika sistem imun tubuh menyerang kristal ini, peradangan pun muncul, menyebabkan nyeri hebat pada penderita.
Faktor genetik diyakini berpengaruh besar dalam menentukan seberapa besar kemungkinan sistem kekebalan seseorang bereaksi terhadap kristal tersebut. Temuan ini menjadi langkah penting untuk mendekonstruksi mitos seputar penyakit ini, sekaligus membuka jalan bagi pendekatan medis yang lebih berempati dan akurat.
Kini, para peneliti mendorong perubahan cara pandang terhadap asam urat: dari penyakit akibat gaya hidup menjadi kondisi genetik yang memerlukan penanganan medis, bukan penghakiman sosial.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































