Negosiasi Tarif dan Ancaman Balasan: Dunia dalam Tekanan Dua Raksasa

Negosiasi tarif
Foto: (AP Photo/Anthony Kwan)

TIMETODAY.ID — Angin perang dagang kembali berhembus kencang dari dua ekonomi terbesar dunia: Amerika Serikat dan China. Namun kali ini, tak hanya dua raksasa yang bermain. Negara-negara lain pun mulai terseret ke pusaran negosiasi tarif yang kian menegangkan.

Sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif resiprokal sebesar 10% pada awal April—yang meskipun ditunda 90 hari—dunia perdagangan internasional berubah. Negara-negara mulai membuka jalur diskusi dagang bilateral dengan AS demi mendapatkan pengecualian tarif, namun tidak tanpa tekanan.

Peringatan Tegas dari Beijing

Advertisement

China, yang selama ini menjadi poros perlawanan terhadap tarif Trump, angkat suara lantang. Melalui Kementerian Perdagangannya, Beijing memperingatkan negara-negara lain agar tidak bersepakat dengan AS dengan “mengorbankan China”.

“China menghormati negara yang menyelesaikan perbedaan dengan AS secara setara, tetapi kami akan menentang dengan tegas setiap kesepakatan yang merugikan kami,” tegas jubir kementerian tersebut pada Senin (21/4/2025), dikutip Reuters.

Peringatan ini bukan basa-basi. China mengancam akan mengambil langkah balasan, juga secara “timbal balik”, jika negara lain terbukti membuat kesepakatan dengan AS yang merugikan Tiongkok.

Baca Juga :  Dari Huawei ke BGI: Kekhawatiran Baru AS soal Dominasi Teknologi China

Tarif Jadi Alat Tekanan

Kekhawatiran Beijing bukan tanpa dasar. Pemerintahan Trump diduga tengah menekan negara-negara yang ingin bebas dari tarif AS agar secara implisit membatasi hubungan dagang dengan China. Sebuah laporan menyebut ada sanksi moneter yang tengah disiapkan sebagai bagian dari tawar-menawar.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer bahkan menyebut ada hampir 50 negara yang telah menghubungi pihaknya terkait negosiasi tarif.

Beberapa negara mulai melakukan manuver: Jepang mempertimbangkan untuk menaikkan impor kedelai dan beras dari AS, sementara Indonesia dilaporkan akan meningkatkan pembelian pangan dan komoditas dari Washington, seraya mengurangi pesanan dari negara lain—secara tak langsung mengindikasikan langkah pengurangan ketergantungan pada China.

Xi Jinping, Diplomasi dari Asia Tenggara

Sementara Washington memutar skenario tarif, Presiden China Xi Jinping memilih jalur diplomatik. Dalam kunjungan ke tiga negara Asia Tenggara, Xi menekankan pentingnya solidaritas dan menolak praktik unilateralisme.

“Tidak ada pemenang dalam perang dagang dan perang tarif,” tulis Xi dalam artikel yang dimuat media Vietnam.

Baca Juga :  Kurs Dolar Tembus Rp 18.000, BI Siapkan Langkah Jaga Stabilitas Rupiah

Xi Jinping tak menyebut AS secara langsung, tapi arah kritiknya jelas. China ingin memperkuat hubungan regional sebagai penyeimbang atas tekanan dari barat. Ia menyerukan untuk menolak segala bentuk “intimidasi sepihak”, istilah halus untuk menyindir tarif Trump yang dinilai sebagai alat tekanan politik.

Perang Dagang: Bukan Sekadar Soal Angka

Ketegangan dagang ini melampaui urusan angka dan tarif. Ini soal dominasi, pengaruh, dan strategi global. Negara-negara lain kini berada dalam posisi dilematis—antara menjaga hubungan dagang dengan AS, atau mempertahankan keseimbangan dengan China.

Dengan peringatan terbaru Beijing, peta geopolitik ekonomi semakin kompleks. Jalan negosiasi dagang kini menjadi ajang tarik-menarik kepentingan dan identitas nasional. Satu langkah keliru bisa memicu reaksi berantai yang merugikan banyak pihak.

Dan seperti yang disampaikan Xi Jinping, dalam perang dagang, tak pernah ada pemenang yang benar-benar menang. Yang ada hanya dunia yang semakin terpecah karena tarif dan tekanan.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel