TIMETODAY.ID — Di tengah jalur Wonosobo-Banjarnegara, tepatnya di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, berdiri tegak seekor biawak raksasa. Bukan reptil sungguhan, melainkan tugu yang begitu menyerupai aslinya—Tugu Krasak Menyawak, begitu masyarakat menamainya.
Patung setinggi 7 meter dengan lebar 4 meter itu sukses menarik perhatian bukan hanya karena bentuknya yang realistis, namun juga karena cerita di balik pembuatannya. Tak butuh miliaran rupiah, tak pula berasal dari anggaran daerah, tugu ini lahir dari tangan-tangan gotong royong, kreativitas warga, dan semangat lokalitas.
Dari Sungai Serayu, Hadirlah Menyawak
“Kenapa disebut Tugu Krasak Menyawak? Karena memang biawak atau menyawak dalam bahasa Jawa, sudah lama hidup di sekitar sini,” kata Ahmad Gunawan Wibisono, Ketua Karang Taruna Kecamatan Selomerto.
Lokasi patung ini memang tak jauh dari habitat asli biawak yang hidup di bawah jembatan Sungai Serayu. Masyarakat lokal sudah terbiasa melihat reptil besar ini merayap di tepian sungai. Tugu itu seakan menjadi monumen simbolik bagi keberadaan satwa endemik yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga selama puluhan tahun.
Karya yang Lahir dari Rasa Cinta
Adalah Arianto, seniman asal Wonosobo yang menjadi otak di balik karya viral ini. Sosok yang akrab disapa Mas Ari ini dulunya menekuni dunia lukis, namun kini namanya melambung berkat kepiawaiannya memahat bentuk kehidupan ke dalam beton.
Demi mendapatkan bentuk paling akurat, Ari bahkan rela membeli biawak hidup untuk dijadikan referensi utama.
“Kalau mau hasil yang hidup, ya harus kenali dulu ruhnya,” ucapnya. “Patung itu harus punya sel, punya jiwa. Bukan sekadar bentuk.”
Karya ini lahir dari dedikasi tinggi. Ari bahkan menyebut dirinya sempat berhutang di awal proses pengerjaan. Ia tidak mau menyebut angka pasti biaya pembuatan tugu tersebut. Namun ia menampik kabar bahwa biayanya hanya Rp50 juta.
“Saya didawuhi Bupati dan diberi dana seadanya, saya pasti bikin semampu saya. Kalau dikasih Rp1 miliar, saya bisa bangun patung di empat penjuru mata angin,” candanya.
Bukan dari APBD, Tapi dari Semangat Kolektif
Kepala Desa Krasak, Supinah, dengan tegas membantah bahwa proyek ini didanai dari anggaran desa. Dana pembangunan tugu berasal dari CSR BUMD serta sumbangan warga berupa tenaga dan konsumsi.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, juga memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif warga. Ia menegaskan tidak ada anggaran dari APBD yang digunakan. “Kami hanya memantik. Pemerintah daerah enggak punya duit, tapi kami punya semangat,” katanya.
Monumen yang Bercerita
Lebih dari sekadar monumen, lokasi Tugu Menyawak menyimpan sejarah. Di masa agresi militer Belanda pertama, jembatan menyawak menjadi saksi pertempuran antara pasukan Jepang dan Sekutu NICA.
Kini, tempat itu kembali hidup. Masyarakat mulai singgah, berfoto, dan meresapi nilai sejarah serta keindahan karya yang menyatu dengan alam dan budaya lokal.
Harapan dari Tugu Biawak
Tugu ini belum rampung sepenuhnya. Masih akan dilengkapi taman dan fasilitas duduk. Namun antusiasme masyarakat sudah lebih dulu memuncak. Tugu Krasak Menyawak kini menjadi simbol—tentang identitas, tentang gotong royong, dan tentang bagaimana karya seni bisa mengangkat nama desa kecil menjadi perhatian nasional.
Dan bagi Arianto, ini bukan akhir. “Saya ingin terus berkarya untuk Wonosobo. Kalau karya itu cantik dan pintar, maka ia akan tinggal lama dalam ingatan,” ucapnya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































