Ketika Tarif Trump Bikin Belanjaan Makin Mahal: Dari Kopi, Mi Instan, sampai Skincare Korea

Belanja
ilustrasi

TIMETODAY.ID — Belanja ke supermarket bisa jadi momen healing bagi sebagian orang, tapi belakangan, senyum puas seusai checkout mulai tergantikan keluhan soal harga yang makin menggila. Penyebab terbarunya? Kebijakan tarif impor dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam kebijakan terbarunya, Trump menunda pemberlakuan tarif resiprokal untuk semua negara selama 90 hari—kecuali China. Tapi dampaknya sudah terasa, terutama bagi para pecinta produk impor, termasuk makanan Asia dan skincare favorit yang biasa ditemukan di supermarket khusus seperti H Mart dan 99 Ranch Market.

“Kita Semua Akan Menangis di H Mart”

Advertisement

Komentar satir seorang pengguna TikTok ini menggambarkan kekecewaan para pelanggan setia supermarket Asia. Dari mi instan Jepang, saus tiram Thailand, hingga sheet mask Korea, semua terancam naik harga. Dan bukan cuma satu atau dua produk—daftarnya panjang: kopi, keju, buah, cokelat, bahkan peralatan makan plastik.

Artis Chitchamnueng, pelanggan rutin 99 Ranch Market di dekat UCLA, mengatakan ia tidak tahu harus ke mana lagi jika harga melambung. “Banyak makanan favorit saya cuma bisa didapat di sini,” katanya. Bagi para imigran dan mahasiswa internasional, toko-toko seperti ini bukan hanya tempat belanja, tapi juga pengobat rindu kampung halaman.

Baca Juga :  Pagi Ini Dolar AS Naik, Rupiah Bertahan di Kisaran Rp16.800

Kenaikan Bertahap Tapi Pasti

Menurut para ahli, gelombang pertama kenaikan harga akan datang dari makanan segar dan mudah rusak. Setelah itu, produk tahan lama seperti kopi, tuna kaleng, bahkan skincare akan ikut terkerek. Pelanggan juga akan menemukan produk yang dikemas lebih kecil—praktik yang dikenal sebagai shrinkflation—atau bahkan hilangnya beberapa varian karena perusahaan mencoba memangkas biaya.

John Ross, CEO jaringan toko IGA, memperkirakan efeknya akan terasa dalam beberapa minggu ke depan. “Dalam 90 hari, dampaknya akan menyebar ke seluruh toko,” katanya.

Bahkan sebelum tarif ini berlaku penuh, harga bahan makanan di AS sudah naik 23 persen sejak 2021. Tambahan tarif hanya akan memperburuk situasi, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Supermarket Kecil Paling Terdampak

Toko kelontong kecil, yang tidak punya fleksibilitas sebesar raksasa seperti Walmart, kemungkinan akan menaikkan harga lebih cepat. Distributor kecil juga bereaksi lebih cepat karena inventaris mereka terbatas.

Contohnya, distributor Affiliated Foods di Texas sudah memberi tahu akan ada kenaikan harga pisang sebesar 10 persen akibat tarif impor dari Guatemala. Sementara importir produk Italia mengumumkan kenaikan harga minyak zaitun dan cuka balsamik sebesar 20 persen bulan depan.

Baca Juga :  Trump Murka soal Magnet, Ancam Lumpuhkan Ratusan Pesawat China

Efek Domino ke Produk Sehari-hari

Tak hanya makanan, produk sehari-hari seperti alat makan plastik dan kemasan aluminium juga terdampak. Ini artinya, dari kopi pagi, camilan siang, hingga rutinitas skincare malam hari, semuanya berisiko makin mahal.

Merek besar seperti Campbell, PepsiCo, dan JM Smucker bahkan sudah melaporkan penurunan penjualan akibat harga tinggi yang membuat konsumen mengurangi belanja.

Bukan Sekadar Isu Ekonomi, Tapi Juga Budaya

Kebijakan tarif Trump memang bernuansa politik dan ekonomi, tapi dampaknya terasa hingga ranah budaya. Produk-produk impor dari Asia bukan sekadar komoditas, tapi bagian dari identitas dan kenyamanan bagi banyak komunitas diaspora.

Ketika harga-harga ini naik, yang terancam bukan hanya dompet konsumen, tapi juga akses mereka pada cita rasa dan budaya yang melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel