Buya Anwar Abbas: Jangan Sampai Indonesia Tertipu Tipu Daya Israel

gaza
Anwar Abbas.(MI/Usman Iskandar)

TIMETODAY.ID —  Rencana evakuasi 1.000 warga Jalur Gaza oleh Presiden Prabowo Subianto memunculkan gelombang tanya di tanah air. Bukan hanya soal logistik dan tujuan, tetapi juga soal posisi Indonesia dalam peta geopolitik yang rumit dan penuh jebakan.

Pada Rabu dini hari (9/4/2025), Presiden Prabowo memulai lawatannya ke sejumlah negara di Timur Tengah: Uni Emirat Arab, Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania. Misinya jelas—mengevaluasi kemungkinan evakuasi warga sipil dari Gaza yang porak poranda akibat konflik berkepanjangan. Tapi bagi sebagian pihak, misi ini tidak sesederhana membantu korban perang.

Di balik semangat kemanusiaan, tersimpan kecemasan akan strategi besar yang mungkin sedang dimainkan. Buya Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka mempertanyakan langkah Presiden tersebut.

Advertisement

“Pertanyaannya, untuk apa Indonesia ikut-ikutan mendukung rencana Israel dan Amerika?” ujar Buya Anwar, dalam pernyataannya di situs resmi MUI.

Baca Juga :  Indonesia Murka, Israel Pasang Spanduk “Rising Lion” di Puing RS Indonesia Gaza

Baginya, evakuasi warga Gaza bukan semata langkah penyelamatan, melainkan berpotensi menjadi bagian dari skenario besar pengosongan wilayah. Skenario yang, jika ditelaah lebih dalam, bisa membuka jalan bagi pendudukan permanen oleh Israel.

Kekhawatiran Buya Anwar bukan tanpa dasar sejarah. Ia mengingatkan pada nasib Jerusalem—kota suci yang dahulu berada di bawah kendali rakyat Palestina, namun kini telah diduduki dan bahkan dijadikan ibu kota oleh Israel.

“Jangan sampai negara kita dikadalin oleh Israel,” tegasnya, mengaitkan rencana evakuasi ini dengan potensi pengulangan sejarah pendudukan yang terbungkus narasi ‘bantuan kemanusiaan’.

Ia juga menyoroti pilihan negara yang menjadi tujuan kunjungan Prabowo. Negara-negara tersebut memiliki hubungan diplomatik, atau setidaknya hubungan perdagangan, dengan Israel—mulai dari Turki hingga Uni Emirat Arab. Hanya Qatar yang belum secara resmi membuka hubungan diplomatik, namun tetap menjalin kerja sama ekonomi.

Baca Juga :  Turis Timur Tengah Serang Marbot Masjid di Bogor, Berawal dari Teguran Melepas Sandal 

“Jika Indonesia berkonsultasi dengan negara-negara tersebut, maka bisa diduga ke arah mana kebijakan akan dibawa,” kata Buya Anwar.

Bagi Buya Anwar, solusi yang ideal adalah tetap membantu—tetapi dari dalam Gaza. Jika alasannya adalah perawatan medis, maka pengobatan dan dukungan logistik harus diberikan di tempat, bukan melalui relokasi yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan.

“Sebagai bangsa yang sudah kenyang dijajah selama 350 tahun, kita harus tahu, penjajah itu punya seribu satu cara dan tipu daya,” tutupnya.

Di tengah kompleksitas ini, Indonesia dihadapkan pada dilema moral dan politik: antara keinginan membantu sesama, dan kewaspadaan terhadap dinamika kekuasaan global. Yang pasti, di balik misi kemanusiaan selalu ada tafsir politik. Dan tafsir itu, tak jarang, memutuskan arah sejarah sebuah bangsa.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel