Ketika Kasus “Rendang Hilang” Willie Salim Berujung pada Tradisi Adat: Seruan Damai dari Ustaz Derry Sulaiman

Ustaz Derry Sulaiman
Ustaz Derry Sulaiman..

TIMETODAY.ID — Kasus yang bermula dari konten sederhana kini menjadi perbincangan hangat di berbagai lapisan masyarakat. Kontroversi “rendang hilang” yang melibatkan konten kreator Willie Salim di Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang kini memasuki babak baru.

Namun, di tengah riuhnya pro dan kontra, seruan damai justru datang dari sosok ulama ternama, Ustaz Derry Sulaiman.

Melalui sebuah video yang beredar luas, Ustaz Derry meminta agar polemik ini segera disudahi. Ia menegaskan bahwa kasus ini bukanlah tentang mencari siapa yang benar atau salah, terutama setelah Willie Salim sendiri telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Advertisement

Tak hanya itu, Ustaz Derry juga mengungkap rencana Willie untuk menjalani tradisi adat tepung tawar bersama Kesultanan Palembang setelah Lebaran Idul Fitri. Langkah ini diharapkan menjadi bentuk penyelesaian yang lebih berbudaya dan mempererat silaturahmi.

Willie Salim dan Klarifikasi di Masjid

Dalam video yang beredar di platform TikTok, Ustaz Derry menceritakan bahwa Willie sempat datang ke masjid untuk memberikan klarifikasi.

“Willie datang ke masjid dan menceritakan kronologis versinya,” ujar Ustaz Derry.

Menurut pengakuan Willie, tidak ada unsur rekayasa atau setingan dalam konten “rendang hilang” yang ia buat.

“Aku tidak membuat settingan adanya pencurian rendang, tidak ada,” kata Willie, seperti yang ditirukan Ustaz Derry.

Baca Juga :  Kasus Penciuman Jin BTS Dihentikan: Insiden Fan Meeting dan Tantangan Penyidikan Polisi

Menanggapi pernyataan tersebut, Ustaz Derry menyatakan bahwa ia percaya pada pengakuan Willie, terutama karena peristiwa itu terjadi di hadapan ribuan orang. Menurutnya, sangat tidak mungkin untuk mengatur sekian banyak orang agar berpura-pura melakukan pencurian demi kepentingan konten.

“Nama kotanya tercemar, nama baik dirinya pun tercemar, karena ada kamera di mana-mana,” tambah Ustaz Derry.

Seruan Damai dan Upaya Penyelesaian dengan Adat

Sebagai seorang tokoh agama, Ustaz Derry lebih memilih jalan damai. Ia menegaskan bahwa kasus ini tidak perlu diperpanjang, terlebih Willie sudah menunjukkan itikad baik dengan meminta maaf kepada Sultan Mahmud Badarudin IV melalui video call.

Bahkan, Willie dikabarkan bersedia menjalani upacara adat tepung tawar di Palembang, sebuah tradisi penyambutan dan pembersihan diri yang memiliki makna mendalam dalam budaya setempat.

“Kita tidak mencari siapa yang benar dan siapa yang salah di sini. Willie sudah membuat video permintaan maaf, bahkan langsung menghubungi Sultan Mahmud Badarudin IV. InsyaAllah, setelah Idul Fitri kita buat upacara adat tepung tawar,” ujar Ustaz Derry.

Ia juga menilai bahwa sebagai anak muda, Willie masih perlu bimbingan dan arahan.

“Aku memandang Willie ini seperti seumuran anakku, masih perlu dibimbing dan diajar,” jelasnya.

Willie Salim: Pasrah dan Menghormati Proses Hukum

Baca Juga :  Resep Tekwan Palembang Asli, Cara Membuat Bola Ikan dengan Kuah Gurih

Meski sudah meminta maaf, Willie Salim ternyata tetap dilaporkan ke pihak berwajib oleh sejumlah konten kreator di Palembang. Dalam sebuah podcast bersama Deddy Corbuzier, Bobon Santoso sempat menanyakan tanggapannya soal laporan tersebut.

Tanpa banyak berkilah, Willie hanya menjawab dengan tenang.

“Tahu kok,” katanya singkat saat ditanya apakah ia menyadari sudah dilaporkan ke polisi.

Saat diminta pendapat lebih lanjut, Willie memilih untuk pasrah dan menghormati hak setiap orang.

“Semua orang punya haknya, punya pendapatnya, punya opininya. Gue cukup mendengarkan,” ujar Willie.

Akhir dari Sebuah Kontroversi?

Kontroversi “rendang hilang” yang awalnya hanya sekadar konten kini telah berkembang menjadi diskusi tentang budaya, tanggung jawab, dan etika di dunia digital. Namun, dengan adanya upaya damai yang diinisiasi oleh Ustaz Derry Sulaiman serta itikad baik dari Willie Salim, besar harapan agar polemik ini bisa berakhir dengan cara yang lebih bermartabat.

Kini, semua mata tertuju pada momen pasca-Idul Fitri, di mana upacara adat tepung tawar akan menjadi titik akhir dari perjalanan panjang sebuah kesalahpahaman. Apakah ini benar-benar akan menjadi akhir dari kasus ini? Hanya waktu yang bisa menjawab.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel