
TIMETODAY.ID — Gaza kembali berduka. Senin (24/3), jurnalis Al Jazeera, Hossam Shabat, tewas dalam serangan udara Israel yang menargetkan kendaraan yang ditumpanginya di Beit Lahia, Gaza utara. Kematian Shabat bukan sekadar kehilangan seorang jurnalis, melainkan juga simbol kebebasan pers yang terus terancam di tengah perang berkepanjangan.
“Jika kau membaca ini, itu artinya aku sudah mati,” tulis Hossam dalam pesan terakhirnya. Kata-kata itu kini bergema di seluruh dunia, menjadi saksi bisu atas realitas mengerikan yang dihadapi jurnalis Palestina.
Jurnalis di Tengah Kepungan Perang
Bagi Hossam Shabat, meliput perang bukan sekadar tugas profesional, melainkan panggilan jiwa. Sejak agresi Israel terhadap Gaza semakin meningkat pada Oktober 2023, ia mendedikasikan hidupnya untuk mendokumentasikan kehancuran dan penderitaan rakyatnya. Tidur di trotoar, berpindah dari satu tempat pengungsian ke tempat lain, dan merasakan kelaparan berbulan-bulan tidak menghalanginya untuk terus membawa suara Palestina ke dunia.
Namun, keberanian itu membuatnya menjadi target. Pada November 2024, Hossam sudah pernah terluka akibat serangan udara Israel, sebulan setelah mendapat ancaman terbuka dari militer penjajah. Meski begitu, ia tetap kembali ke medan perang, mengangkat kamera dan mikrofon sebagai senjata untuk memperjuangkan kebenaran.
“Saya mempertaruhkan segalanya untuk melaporkan kebenaran,” tulisnya. “Dan sekarang, saya akhirnya beristirahat – hal yang belum pernah saya lakukan dalam 18 bulan terakhir.”
Teror terhadap Jurnalis Palestina
Kematian Hossam menambah daftar panjang jurnalis yang dibunuh Israel di Gaza. Data dari Kantor Media Pemerintah di Gaza mencatat, sejak perang genosida dimulai pada Oktober 2023, sebanyak 208 jurnalis Palestina telah kehilangan nyawa mereka. Serangan terhadap media ini bukan sekadar ‘kesalahan’ atau ‘dampak perang’, melainkan upaya sistematis untuk membungkam suara kebenaran.
Organisasi HAM internasional mengecam keras tindakan Israel, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional yang menjamin perlindungan bagi jurnalis di zona konflik. Al Jazeera sendiri telah berulang kali menuntut pertanggungjawaban atas pembunuhan jurnalisnya, termasuk Hossam, namun hingga kini, keadilan masih menjadi harapan yang jauh.
Pesan yang Takkan Pernah Mati
Kepergian Hossam adalah tragedi, tetapi pesannya tetap hidup. “Jangan berhenti bersuara tentang Gaza. Jangan biarkan dunia mengalihkan pandangannya. Tetap berjuang, tetap ceritakan kisah-kisah kami – sampai Palestina merdeka,” tulisnya dalam pesan terakhirnya.
Di tengah kehancuran dan kehilangan, suara-suara seperti Hossam tetap bergaung. Ia mungkin telah tiada, tetapi perjuangannya untuk mengungkap kebenaran tidak akan pernah mati. Dunia kini dihadapkan pada satu pertanyaan besar: akankah kita membiarkan suara-suara ini terus dibungkam, atau justru semakin menggemakannya?
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































